KPK Bawa Dua Koper dari Ruang Sekda Jabar

51
Penggeledahan ruangan Sekda Jabar oleh KPK, di Gedung Sate, Rabu (81/7). (pojoksatu)

RadarPriangan.com, BANDUNG – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tiba-tiba menggeledah ruang kerja Sekretris Daerah Jawa Barat, Iwa Karniwa di lantai 3 Gedung Sate Kota Bandung, sekira pukul 09.00 hingga pukul 14.30, Rabu (31/7).

Tampak sekitar tujuh orang anggota KPK masuk kedalam ruangan mendapatkan pengamanan dua orang aparat kepolisian Polrestabes Bandung serta keamanan internal gedung sate di pintu masuk ruangannya, petugas kepolisian itu terlihat membawa senjata lengkap.

Para petugas KPK yang masuk tersebut membawa dua buah koper berwarna hitam yang biasa digunakan menyimpan berkas berkas barang bukti dari para terdakwa korupsi.

Terlihat juga beberapa aparatur sipil negara (ASN) keluar masuk ruangan Sekda Jabar Iwa Karniwa dengan membawa berkas berkas yang di masukkan kedalam map.

Salah satu yang keluar dari ruangan itu adalah asisten daerah tiga Bagian Administrasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Dudi Sudrajat.

Dudi yang sebelumnya tidak mau di wawancara oleh awak media hanya berbicara sedikit dan membenarkan adanya penggeledahan tersebut, ia menyebutkan ada sekitar 7-8 orang petugas KPK yang memeriksa tiga ruangan di dalam ruang kerja Iwa.

Sekira empat jam, petugas KPK melakukan pemeriksaan itu menyita dua koper dan satu dus dokumen di sejumlah ruangan yang berada di Gedung Sate.

Tiga ruangan yang digeledah petugas KPK yaitu milik Iwa, Sekpri dan stafnya. Mereka lalu bergegas membawa barang-barang berupa dokumen tersebut ke dalam mobil. Dua unit mobil warna silver sudah menunggu di depan lobi Gedung Sate.

Sebelumnya, Iwa diduga menerima suap pengurusan Perda RDTR Kabupaten Bekasi untuk kepentingan perizinan proyek Meikarta. Iwa diduga menerima Rp 900 juta dari Neneng Rahmi Nurlaili, yang saat itu menjabat Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas PUPR Pemkab Bekasi.

Uang yang diberikan Neneng Rahmi kepada Iwa itu disebut KPK berasal dari PT Lippo Cikarang. Iwa tengah cuti tiga bulan untuk fokus terhadap kasus hukumnya. Posisi Iwa digantikan sementara oleh Asda I Daud Ahmad.

Iwa Karniwa mengaku pasrah dan menyerahkan seluruh proses pidananya kepada hukum yang berjalan.

“Saya akan menaati, mengikuti serta bersikap kooperatif sebagai bentuk tanggungjawab saya untuk turut membantuKPKdalam upaya pemberantasan korupsi, kata Iwa, dalam keterangan tertulisnya.

Iwa berjanji menaati dan bersikap kooperatif sebegai bentuk pertanggungjawaban dirinya.

“Saya akan menaati, mengikuti serta bersikap kooperatif sebagai bentuk tanggungjawab saya untuk turut membantuKPKdalam upaya pemberantasan korupsi, katanya.

Ia mengaku, saat ini tengah mempersiapkan kuasa hukum dalam kasus yang menjerat dirinya. Iwa sendiri masih menghuni rumah dinasnya di Jalan Diponegoro, Bandung, menunggu penggeledahan dari petugas KPK yang sebelumnya melakukan hal serupa di ruangan sekertaris daerah di Kantor Gubernur Jawa Barat.

Rencananya pada hari ini juga, KPK juga akan menggeledah Kantor Dinas Bina Marga di Jalan Asia Afrika. Usai penggeledahan di ruang sekertaris daerah, petugas KPK keluar dengan membawa dua buah koper dan satu kotak kardus.

KeteranganKPKmerilis Iwa Karniwa dalam dugaan menerima Rp 900 juta terkait pengesahan RDTR terkait pengajuan izin peruntukan penggunaan tanah (IPPT) yang diajukan untuk pembangunan proyek Meikarta.

Iwa diduga melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Selain Iwa, KPKjuga menetapkan pihak swasta yaitu Bortholomeus Toto yang tercatat sebagai mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang sebagai tersangka dalam perkara dugaan suap yang sama. (ful/mg4/yan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here