Ketua DMI Ciamis: Masjid Harus Disesuaikan dengan Zamannya

190
Imam Khatib sebanyak 100 orang dari 10 Kecamatan, Kabupaten Ciamis, mengikuti pembinaan

CIAMIS – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Ciamis melaksanakan pembinaan Imam Khatib sebanyak 100 orang dari 10 Kecamatan di Aula The Priangan Hotel Ciamis, Jalan Yos Sudarso, Selasa (15/1/2019).

Ketua DMI Ciamis Wawan S Arifien mengatakan, saat ini Masjid harus disesuaikan dengan Zamannya supaya kembali ramai oleh anak-anak untuk ibadah. Karena anak zaman sekarang dengan anak zaman dulu berbeda. Bahkan zaman dulu, masjid lebih ramai oleh anak-anak dibanding dengan zaman sekarang.

Padahal ketika anak-anak berada di masjid itu baik untuk pendidikan. Meskipun pada awalnya sering bercanda. Tapi cara mendidiknya harus disiasati agar anak betah di masjid tapi prilakunya lebih baik.

“Ini satu tantangan bagi kita untuk memakmurkan dan mengurus masjid. Dulu masjid setiap magrib ramai oleh anak-anak, sekarang sepi. Kami khawatir masa depan nanti, kalau tidak ramai bisa jadi museum. Malah lebih banyak yang tua di masjid sekarang ini,” ujar Wawan di hadapan para Imam Khatib.

Menurutnya, masalah ini harus disikapi, selain masjid harus diberdayakan tapi juga harus mampu memberdayakan masyarakat. Kepedulian terhadap masyarakat sekitar masjid harus ditingkatkan.

Terkait dengan pembinaan Imam Khatib, Wawan mengingatkan agar yang menjadi imam itu yang paling fasih dalam membaca Quran. Bukan hanya yang paling tua umurnya. Hal itu yang menjadi permasalahan dan ditemukan di masjid-masjid.

“Memang sulit mengubah itu, masih merasa ego tinggi dan merasa masjid itu milik sendiri. Kalau seperti itu anak muda tidak akan ke masjid. Harusnya bersama-sama, kolaborasi antara yang tua dan yang muda, saling mengisi. Baru itu yang dinamakan masjid,” jelasnya.

Menurutnya, Masjid adalah salah satu tempat yang sejak zaman Rasulullah sebagai lokasi untuk bersosialisasi. Semua kalangan masyarakat disatukan dan saling berinteraksi.

Terkait dengan khatib, Wawan mengingatkan seorang khatib tidak hanya membaca naskah khutbah seperti pembaca berita. Tapi harus memiliki jiwa dan ruh yang bisa mengajak dan mengundang jemaah. Juga harus di cek naskah khutbah tersebut, cocok tidaknya disampaikan di daerah setempat.

“Juga harus diperhatikan sistem pengeras suaranya, supaya bisa didengar jelas oleh para jemaah,” pungkasnya. (mg2)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here