Keterlaluan, Harga Buku Paket SD Hampir Sejuta

54
Orang tua saat membelikan buku untuk anaknya saat masuk tahun ajaran baru. (MUHAMAD ERFAN/RADAR GARUT)

RadarPriangan.com, GARUT – Harga jual buku bagi siswa Sekolah Dasar dikeluhkan orang tua siswa di Kabupaten Garut. Pasalnya, harga yang dikenakan mencapai hampir satu juta rupiah, jumlah tersebut dianggap tidak wajar dan terlalu membebani orang tua.

“Harga buku sekarang untuk anak saya kurang dari Rp1 juta, ya cukup membebani, apalagi anaknya yang dua atau tiga,” kata Salah salah satu orang tua siswa, Irman kepada wartawan.

Menurutnya, buku yang harus dibelinya itu untuk kebutuhan selama setahun, namun karena keterbatasan dana hanya mampu membeli beberapa buku yang dibutuhkan saat ini seharga Rp300 ribu.

Irman mengatakan, pembelian buku ajar tersebut memang tidak diwajibkan oleh guru, namun karena semua bahan pelajaran ada dalam buku tersebut akhirnya siswa harus membelinya.

“Tidak nyuruh, tapi kalau tidak punya buku, ya begitu, kasihan ke anaknya, karena semua soal pelajaran ada di buku,” kata Irman.

Pihaknya berharap, sekolah tidak membebankan siswa untuk membeli buku yang seolah-olah wajib dibeli, tetapi dapat disediakan langsung oleh sekolah yang dialokasikan anggarannya dari pemerintah.

Lanjutnya, pemerintah sebaiknya menyediakan buku bagi siswa, kemudian dirawat dengan baik agar buku tersebut dapat digunakan kembali oleh siswa tahun ajaran berikutnya.

“Harusnya pemerintah menyediakan, terus bukunya dirawat, artinya jangan mengerjakan di buku paket, jadi buku siswa bisa dihibahkan ke adik kelasnya,” katanya.

Orang tua siswa lain dari SD Negeri 1 Samarang, Sri mengeluhkan sama pembelian buku bahan ajar siswa SD terlalu mahal, harganya lebih dari setengah juta rupiah.

Menurut dia, buku dari penerbit Erlangga memang mahal hingga untuk membelinya harus mengumpulkan uang dulu agar buku yang dibutuhkan anak terbeli semuanya.

“Belum beli, karena belum ada uangnya, nunggu gajian dulu,” katanya.

Ia berharap, pembelian buku tersebut tidak seharusnya dibebankan semuanya kepada siswa, pihak sekolah khususnya pemerintah dapat menyediakan buku yang dibutuhkan siswa untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

“Ya inginnya sekolah menyediakan buku di perpustakaan, jangan dibebankan kepada orang tua siswa, karena di sekolah lain juga siswamya tidak harus beli buku,” katanya.

Mahalnya harga buku juga dikeluhkan orang tua siswa lainnya, Ayu
Jika dihitung, semua buku yang harus dibeli untuk kebutuhan belajar anak lebih dari Rp600 ribu, buku yang disarankan guru itu seolah-olah menjadi kewajiban untuk dibeli agar belajarnya menggunakan buku yang sama.

Ia menjelaskan, buku tersebut dibeli bukan dari guru langsung, tetapi mendapat rekomendasi tandatangan dari guru bersangkutan untuk membeli langsung bukunya di tempat yang sudah ditentukan oleh guru.

“Bukunya tidak beli ke guru, tapi disuruh beli di luar, di koperasi masih sekitar sekolah di Samarang,” katanya.

Menurutnya, harga jual buku yang cukup mahal itu dirasa membebani para orang tua, karena tidak semuanya orang tua siswa memiliki kemampuan ekonomi yang cukup.

Ayu berharap, pemerintah melalui sekolah menyediakan buku yang dibutuhkan para siswa tersebut agar tidak terlalu membebani ekonomi orang tua siswa.

“Karena mau tidak mau namanya anak, temannya beli buku semua pasti harus beli, sementara kalau difoto copy itu kan tidak boleh, melanggar hak cipta,” katanya.

Sementara itu, penjualan buku di SD Negeri 1 Samarang dilakukan di luar sekolah di sebuah ruangan bekas kantor koperasi sekolah.

Sejumlah orang tua siswa tampak mengantre, bahkan seringkali harus rebutan untuk membeli buku tersebut untuk selanjutnya diberikan kepada anaknya.

Meski sedikit uang, demi membeli buku tersebut, tidak sedikit orang tua siswa yang meminta keringanan kepada penjual untuk berutang atau dicicil pembayarannya. (erf) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here