Jelang Pemilu, TKI: Kami Dimanfaatkan dan Kemudian Dilupakan

147
Ilustrasi:JPG

RADARPRIANGAN.COM, KUALA LUMPUR – Pabrik dan perkebunan di Malaysia, tempat Tenaga Kerja Indonesia (TKI) mencari nafkah belakangan sering didatangi para politikus yang berharap dapat duduk di kursi DPR setelah pencoblosan kertas suara dalam Pemilu 2019.

Harapan para politikus itu mungkin, dapat diwujudkan berkat sokongan suara warga negara Indonesia yang tinggal atau bekerja di luar negeri, sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) atau dengan istilah lain buruh migran Indonesia (BMI).

“Bukannya dipinang, yang pasti kami dimanfaatkan. Para politikus mendekat kalau menjelang pemilu, tapi pasca pemilu sudah lupa. Tidak pernah tampak lagi.” kata koordinator Serantau – perkumpulan tenaga kerja Indonesia di Malaysia, Nasrikah.

Nasrikah mengungkapkan, bahwa fenomena yang disebutnya dimanfaatkan dan kemudian dilupakan itu telah berulang kali terjadi. Sehingga, dalam pemilu kali ini pun ia bersama sesama pemilih lainnya tidak menaruh harapan terlalu tinggi terhadap para politikus yang hendak mendulang suara mereka.

Bagaimanapun di tataran lapangan, sosialisasi langsung di Malaysia dirasakan kurang maksimal. Salah satu indikasinya, daftar pemilih tetap di Malaysia seharusnya lebih besar dari angka sekitar 900.000 orang.

“Padahal Malaysia adalah negara tujuan buruh migran (Indonesia) terbesar dan meski tidak ada data yang valid terkait jumlah BMI di Malaysia. Padajhal, jumlah tenaga kerja Indonesia, baik yang berdokuman maupun yang tidak berdokumen di Malaysia diperkirakan lebih dari dua juta orang,” ucap Nasrikah.

Sentimen serupa juga terjadi di kalangan buruh migran Indonesia di Hong Kong.

“Selama tiga atau empat periode ini kita dilibatkan dalam pemilu, tapi pendekatannya adalah pendekatan menjelang pemilu dan bukan pendekatan yang memang dipupuk untuk jangka panjang sehingga kesan kami masih tetap. Sebelum pemilu mereka ramai, menemui, mengajak menjadi suporter tetapi setelah pemilu kita sama-sama tidak tahu ke mana mereka pergi,” ungkap ketua Aliansi Migran Internasional, Eni Lestari di Hong Kong.

Akan tetapi, salah seorang calon anggota legislatif yang berusaha menarik dukungan pemilih di luar negeri meminta para pemilih untuk tidak menyamaratakan semua calon.

“PMI (pekerja migran Indonesia) adalah saudara saya, karena saya pada tahun 2011 pernah menjadi TKI ilegal tanpa dokumen di Malaysia dan saya pernah pulang lewat kapal tongkang dari Johor ke Batam. Jadi mereka adalah posisi sebagai saudara serantau saya dan sampai hari ini,” tegas Datuk Muhamad Zainul Arifin, politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP). (der/bbc/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here