IPW Dorong Vanessa Angel Jadi Whistleblower Jaringan Prostitusi Online

130

RADARPRIANGAN.COM – Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) melindungi tersangka prostitusi Vannesa Angel. Dorongan itu untuk membongkar jaringan prostitusi online yang diduga melibatkan banyak pihak.

Menurut Presidium IPW Neta S Pane, Vanessa harus dijadikan sebagai whistleblower dalam membongkar sindikat bisnis lendir di negeri ini.”Kami kira perlu LPSK memberi perlindungan kepada Vannesa, agar Vannesa mau bongkar kasus yang libatkan banyak elti pejabat dan termasuk perputaran uang di dalam bisnis ini,” kata Ketua IPW Neta S Pane Police Watch dalam siaran persnya kepada Fajar Indonesia Network, Jumat (22/3).

Menurut Neta, pihaknya khawatir jika LPSK tidak memberi perlindungan, teror dan upaya kriminalisasi akan silih berganti menghampiri artis yang melejit lewat film televisinya tersebtu. “Bukan mustahil Vanessa akan dihabisi, karena sekarang juga dia sudah tiga kali dilarikan ke rumah sakit selama terjerat kasus tersebut,” ujarnya,

IPW juga tengah menjalin komunikasi dengan Komisi Nasional Perempuan dalam kasus ini . Pasalnya, pihaknya mendapat informasi selama ditahanan Polda Jatim, Vannesa kerap diteror oknum tertentu hingga dia tertekan dan berniat bunuh diri.

“Kami menduga apa yang dialami Vannesa ini, karena ada pihak-pihak khawatir dia akan buka suara untuk bongkar jaringan dan melibatkan banyak tokoh, termasuk adanya penyanyi terkenal yang bertarif Rp 300 juta sekali order,” tambahnya.

Ia mencontohkan, ketika Polda Jatim sempat mengumumkan dan memaparkan foto- foto sejumlah wanita cantik, serta artis yang dituding terlibat prostitusi online, Mabes Polri mengeluarkan teguran ke Polda Jatim akibat prilakunya karena dianggap abaikan asas praduga tak bersalah.

“Dan teguran itu, akhirnya foto foto wanita yang dipaparkan Polda Jatim sebagai artis yang terlibat prostitusi online, tidak ada satu pun yang diusut hingga kini, termasuk penyanyi terkenal yang bertarif Rp 300 juta permalam,” ujar Neta.

“Ini menjadi tanda tanya, Kenapa Polda Jatim hanya memburu Vannesa dan cenderung melindungi artis yang lain. Apakah karena Vannesa tahu banyak, tentang siapa oknum pejabat dan oknum kepolisian yang jadi konsumen dalam prostitusi online ini?,” imbuhnya.

Menanggapi desakan dari IPW. Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo mengatakan, dalam perkara kasus ini pihaknya agak sulit untuk memberikan pendampingan kepada Vannesa, karena statusnya sebagai tersangka. Kalaupun tidak, tentu pihaknya akan segera merespon cepat mendampinginya.

“Sejak kasus ini ramai kita sudah ingin bergerak tapi karena berstatus tersangka, akhirnya kita sulit untuk memberikan pendampingan dengan statusnya itu,” ujar Hasto.

“Kalaupun LPSK didesak memberi pendampingan kepada Vennesa dengan statusnya itu bisa-bisa saja, asalkan memang bisa membuktikan kalau dia dalam keadaan terancam, dan mau bersedia bongkar kasus yang lebih besar lagi,” terangnya.

Hasto mengatakan, pihaknya memberi ruang agar kasus ini bisa segera diselesaikan. “Silakan pengacaranya datang ke kantor kami, dan membuktikan kalau memang dia dalam kondisi terancam, dan mau membongkar kasus yang lebih besar. Jika tidak, agak sulit buat kita memberi pendampingan kepadanya,” jelasnya.

Sementara itu Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Pol Frans Barung Mengera saat hendak dihubungi Fajar Indonesia Network, nomor telpon yang bersangkutan tidak bisa dihubungi, dan tak juga memberi balasan dari pesan singkat kepadanya, sehingga belum keterangan resmi darinya. (mhf/fin/tgr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here