Indonesia Waspadai Perang Dagang AS dan China yang Berkelanjutan

78
Menteri Keuangan Sri Mulyani (JawaPos)

RadarPriangan.com, JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani memperkirakan perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan China akan berkelanjutan.

Tentu dampak yang akan ditimbulkan adalah perlambatan ekonomi di dunia, termasuk di Indonesia.

“Kondisi ini akan berpengaruh ke sektor keuangan, ini akan menekan kondisi masing-masing negara,” ujar Sri Mulyani di Jakarta, Rabu (15/5).

Apalagi, lanjut mantan direktur pelaksana bank dunia mengatakan, jika Amerika terjadi inflasi akan berpangaruh perekonomian negara lain di dunia.

“Sementara di AS jika kenaikan harga memunculkan inflasi maka pengaruhnya dua yakni suku bunga meningkat dan penurunan daya beli. Keduanya tidak bagus untuk dunia,” tutur Sri.

Menurut Sri, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dipengaruhi kondisi ekonomi global.

“Negara kita masih tergantung ke external balance. Dengan demikian, kita tidak harus mengandalkan ekspor sebagai mesin pertumbuhan,” ucap Sri.

Dengan menahan ekspor, Sri menilai ada sisi positifnya yakni produk di dalam negeri dapat menopang industri di Tanah Air.

“Jadi semuanya berkaitan, artinya ekonomi sedang dalam tekanan global yang sangat serius melakukan ketidakpastian itu. Dan ini kewaspadaan bagi kita,” jelas dia.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, terkait kebijakan baru AS yang menaikkan tarif impor produk China ke AS dari 10 persen menjadi 25 persen secara tidak langsung akan berdampak ke Indonesia.

Darmin menjelaskan, hal itu karena pertumbuhan ekonomi China akan melambat. Artinya impor China akan mengalami penurunan, begitupun ekspor Indonesia ke China bisa terganggu.

“Jadi walaupun kita tidak ikut perang dagang tapi dampaknya pasti kena,” ujar Darmin.

Terpisah, ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Nailul Huda melihat ketegangan saat ini antara AS dan China nampaknya tidak jauh berbeda dengan konflik sebelumnya.

Lanjut Huda, bahwa semua negara memiliki kepentingan di negara lain. Jadi ketika kondisi dalam negerinya tidak menguntungkan akibat adanya perang dagang ini (seperti adanya perlambatan ekonomi ataupun inflasi) maka AS maupun China akan melunak.

“Tapi untuk waktunya kapan itu yang belum diketahui. Namun nampaknya akan sama atau hampir sama dengan konflik yang sudah-sudah,” ujar Huda kepada Fajar Indonesia Network (FIN).

Menurut Huda, ada dua pengaruh kepada Indonesia atas perang dagang tersebut, pertama pengaruh negatifnya adalah penurunan ekspor Indonesia karena adanya penurunan permintaan bahan baku dari Indonesia baik ke AS maupun ke China.

“Ketika ada proteksi maka akan memperlambat permintaan barang China ke AS ataupun sebaliknya. Dampaknya adalah negara-negara yang mensupply bahan baku baik ke AS maupun ke China akan mengalami penurunan permintaan, termasuk Indonesia,” tutur Huda.

Sedangkan, kedua, dampak positifnya (jika Indonesia bisa memanfaatkan) adalah barang-barang yang diproteksi oleh AS maupun China dari kedua negara bisa diisi oleh Indonesia.

“Salah satunya adalah crude palm oil (CPO) yang dapat menggantikan minyak soybean dari AS ke China,” kata Huda.

Saran Huda, agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil adalah mengolah bahan baku sendiri.

“Indonesia harus bisa melakukan reindustrialisasi dengan menggunakan bahan baku yang terancam turun permintaannya agar bisa diolah dalam negeri,” ujar Huda.

Sementara solusi lainnya, dari sisi keuangan, pemerintah harus mempersiapkan bumper bila terjadi capital outflow akibat perang dagang.(din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here