Indonesia Bakal Kirim Balik Sampah Plastik ke Negara Asal

80
Siti Nurbaya Bakar

RadarPriangan.con, JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup, bakal melakukan reekspor sampah plastik yang masuk secara ilegal ke Indonesia.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan, masuknya sampah-sampah plastik secara ilegal ke Indonesia bukan baru pertama terjadi. Pada 2015-2016, Indonesia juga sempat melakukan reekspor puluhan kontainer.

“Sampah plastik yang masuk ke Indonesia itu pasti tidak legal. Oleh karena itu, kita akan melakukan reekspor. Langkah-langkahnya (reekspor) sudah bisa dilakukan. Hari ini akan dirapatkan di tingkat Dirjen. Dan kita juga akan rapat dengan Bea Cukai, Menko Ekuin (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian) dan (Menteri) Perdagangan,” kata Siti di Jakarta, Senin (10/6)

Untuk itu, Siti meminta Menteri Perdagangan merevisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31 Tahun 2016 tentang Ketentuan Impor Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun guna mencegah masuknya sampah plastik impor ilegal.

“Dari sisi pencegahan, kita sudah minta ke Menteri Perdangangan (Mendag) untuk merevisi Permendag 31 Tahun 2016,” ujarnya.

Menurut Siti, revisi ini perlu dilakukan untuk melakukan penegasan secara spesifik HS Code-HS Code dari barang apa saja yang bisa masuk Indonesia. Terlebih, Permendag tersebut harus lebih spesifik, mengingat definisi sampah, plastik maupun kertas juga menjadi perdebatan panjang dengan perindustrian dan perdagangan.

“Ini sudah dirapatkan juga beberapa kali di Menko Ekuin (Menteri Koordinator Bidang Perekonomian). Saya sudah surati Mendag dan Kementeriannya sedang memproses revisi Permendag tersebut. Yang penting spesifikasi HS Code harus jelas,” tuturnya.

Sementara itu, peneliti ICEL Fajri Fadillah mengatakan, dua aturan tentang sampah impor yaitu Undang-Undang Nomor 18 tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 31/M-DAG/PER/5/2016 tentang Impor Limbah Nonbahan Berbahaya dan Beracun sudah cukup kuat untuk mengontrol impor limbah. Namun implementasinya yang masih perlu diawasi.

“Pemerintah perlu mengevaluasi kembali perusahaan yang memiliki izin impor plastik dan paper scrap, apakah sudah sesuai perizinan, dan apakah praktik yang mereka lakukan tidak mencemari lingkungan,” katanya.

Indikasi impor sampah plastik ini ditemukan secara nyata di beberapa daerah di Indonesia, seperti Gresik, Jawa Timur. Beberapa bentuk sampah seperti serpihan plastik bercampur kertas yang tidak bisa didaur ulang, yang biasanya digunakan untuk bakar tahu atau bahan bakar lainnya, serta sampah plastik, yang bentuknya beragam berupa jenis botol, sachet, kemasan makanan, personal care, serta produk rumah tangga ditemukan di sana.

Menurutnya, impor sampah plastik yang terjadi di Gresik Jawa Timur merupakan kegiatan yang dilarang dan diancam pidana menurut Pasal 29 Ayat (1) Huruf b jo Pasal 37 Ayat (1) UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

“Penyidik harus mengusut tindakan impor sampah plastik tersebut. Selain itu Menteri Perdagangan harus mencabut persetujuan impor terhadap importir produsen kertas yang melakukan pembiaran terhadap sampah plastik yang mereka impor. Lebih lanjut lagi, permohonan persetujuan impor harus ditinjau ulang oleh Mendag dengan mengkonsultasikannya dengan Ditjen PSLB3 KLHK,” kata Fajri.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 menunjukkan, peningkatan impor sampah plastik Indonesia sebesar 141 persen (283.152 ton), angka ini merupakan puncak tertinggi impor sampah plastik selama 10 tahun terakhir, di mana pada 2013 impor sampah plastik Indonesia sekitar 124.433 ton. Namun peningkatan impor sampah plastik tidak dibarengi dengan angka ekspor, malah pada 2018 angka ekspor menurun 48 persen (98.450 ton).

“Angka ini menandakan ada 184.702 ton sampah yang masih ada di Indonesia, di luar beban pengelolaan sampah domestik di negara sendiri,” pungkasnya. (der/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here