Harga Cabai akan Stabil, Pemerintah Sebut Produksi di Garut Berlebih

26
Pemerintah memastikan harga cabai akan stabil. (JPC)

RadarPriangan.com, JAKARTA – Musim kemarau sudah mulai berakhir. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan harga cabai akan berangsur-angsur stabil.

Harga cabai belakangan ini memang menjadi juara. Cabai merah dan keriting melonjak antara Rp95 ribu-Rp100 ribu. Sedangkan harga cabai rawit tembus Rp70 ribu. Kenaikan harga ini membuat para ibu rumah tangga beralih konsumsi cabai kering.

Kurangnya pasokan cabai memang memicu harga cabai meningkat. Hal itu karena musim kemarau. Namun saat ini tengah memasuki musim panen cabai. Alhasil pasokan akan meningkat, sehingga harga cabai tidak lagi pedas.

Plt Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Sukarman mengungkapkan, sebetulnya pasokan cabai secara nasional cukup memenuhi kebutuhan konsumen.

“Harus diakui, produksi cabai rawit Juli-Agustus tahun ini kurang optimal. Meskipun secara kumulatif nasional, jumlahnya masih cukup, tapi produksi lapangannya sangat terbatas. Kondisi di Pulau Jawa sebagai sentra utama produksi aneka cabai menunjukkan adanya kelebihan produksi dibanding kebutuhan seluruh Jawa,” ujar Plt Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan, Sukarman, dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/8).

Kementan mencatat, total kebutuhan cabai rawit pada bulan Agustus, sebanyak 35.319 ton. Sedangkan produksinya mencapai 35.559 ton atau hanya terdapat selisih tipis 240 ton. “Jika melihat seliishnya cukup sih. Tapi memang riskanmemicu fluktuasi harga di pasar,” ucap dia.

Kasubdit Cabai dan Sayuran Buah Kementan, Mardiyah menambahkan, memasuki bulan September nanti pasikan cabai akan meningkat.

“Memasuki September nanti produksi cabai rawit di pulau Jawa diperkirakan mencapai 37.598 ton. Selanjutnya memasuki bulan Oktober hingga Desember ditaksir semakin meningkat menjadi sekitar 50 ribu ton per bulan. Rata-rata kebutuhan cabai rawit se Jawa mencapai 34-35 ribu ton per bulan,” ujar Mardiyah.

Dengan melihat angka tersebut, pihaknya meyakini potensi produksi akan aman, yakni mencapai 14-16 ribu ton per bulan sehingga mampu memenuhi permintaan pasar di wilayah Sumatera, Bali, dan Kalimantan. Kendati demikian, Kementan pun tetap mewaspadai apabila harga kembali anjlok.

Pihaknya juga telah memetakan secara rinci di daerah mana saja sentra produksi cabai yang berkurang. Seperti di pulau Jawa yang berpotensi berkurang, dengan demikian akan didorong guna mencukupi.

Sementara daerah yang potensi produksi cabai rawitnya mencukupi hingga akhir tahun, yaitu Wilayah Jawa Timur dan Jogjakarta.

“Sedangkan untuk Jawa Barat dan Banten sebaliknya, produksinya masih belum mencukupi. Wilayah Jawa Tengah produksinya berlebih memasuki bulan Oktober hingga Desember nanti,” paparnya.

Dari data yang berhasil dihimpun Ditjen Hortikultura, sepanjang Agustus hingga Desember 2019, beberapa sentra cabai rawit di Pulau Jawa produksinya diprediksi berlebih yaitu meliputi Cianjur, Garut, Banjarnegara, Magelang, Wonosobo, Semarang, Temanggung, Brebes, Kulon Progo, Sleman, Ponorogo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, dan Bojonegoro.

Mardyah juga menyebut berdasarkan pemantauan Tim Ditjen Hortikultura, harga rata-rata cabai rawit merah di sentra produksi nasional terpantau Rp60 ribu-65 ribu per kg atau sudah mulai menurun dibanding pada awal bulan Agustus yang mencapai Rp70 ribu. Sementara harga cabai keriting di tingkat petani sentra rata-rata Rp48 ribu-50 ribu per kg, menurun dibanding awal Agustus yang mencapai Rp55 ribu-60 ribu per kg.(din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here