Hadapi Kekeringan, 16 Waduk Disiapkan

21
Kekeringan melanda beberapa wilayah Indonesia yang diperkirakan puncaknya pada Agustus 2019. (jpc)

RadarPriangan.com, JAKARTA– Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah menyiapkan, 16 waduk untuk memastikan lahan pertanian seperti sawah bisa mendapat pasokan air pada saat musim kemarau tahun ini.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Hari Suprayogi mengatakan, lahan pertanian yang mengalami dampak kekurangan air pada musim kemarau 2019 ini, umumnya merupakan sawah tadah hujan dan sawah yang mengandalkan irigasi teknis dari bendung yang bergantung pada debit air sungai.

Sementara itu, untuk irigasi teknis yang mendapat jaminan air bendungan atau irigasi premium masih mendapat pasokan air yang cukup.

“Dari 16 waduk utama dengan kapasitas minimal 50 juta meter kubik, 10 waduk dalam kondisi di bawah rencana dan 6 waduk lainnya dalam kondisi normal,” kata Hari dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (13/7).

Menurut Hari, waduk dengan kondisi di bawah rencana akan mengalami penyesuaian pola tanam yang pengaturannya di tentukan oleh perkumpulan petani pengguna air atau P3A.

Adapun menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), puncak musim kering diperkirakan berlangsung pada Agustus 2019 dengan cakupan 52,9 persen wilayah Indonesia terpapar musim kekeringan.

Mengantisipasi hal tersebut, Kementerian PUPR terus melakukan pemantauan terhadap kondisi 16 waduk utama, antara lain Jatiluhur, Cirata, Saguling, Kedungombo, Batutegi, Wonogiri, Wadaslintang, Sutami, Bili-bili, Wonorejo, Cacaban, Kalola, Solorejo, Way Rarem, Batu Bulan, dan Ponre-ponre.

Adapun pantaun pihaknya per 30 Juni 2019, volume ketersediaan air dari 16 waduk utama itu sebesar 3.858,25 juta meter kubik dari tampungan efektif sebesar 5.931,62 juta meter kubik.

“Luas area yang bisa dilayani dari ke-16 bendungan tersebut adalah 403.413 hektare (ha) dari total 573.367 ha, sementara 75 waduk lainnya dengan skala kecil sampai menengah kondisinya 10 normal, 58 di bawah rencana, dan 7 kering,” tuturnya.

Antisipasi lainnya yang dilakukan Kementerian PUPR dalam menghadapi musim kering tahun ini adalah, dengan menyiapkan pompa sentrifugal berkapasitas 16 liter per detik. Pompa yang disiapkan mencapai 1.000 unit yang tersebar di 34 provinsi.

“Di samping itu, Kementerian PUPR juga membangun sumur bor sebanyak dua titik di setiap Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di daerah,” ujarnya.

Hari menuturkan, beberapa daerah memang setiap tahun mengalami kekeringan, misalnya Gunung Kidul dan Bulukumba. Menurutnya, di daerah tersebut curah hujannya relatif sedikit sehingga cadangan air tanah terbatas, sehingga pihaknya membuat sumur bor dengan terlebih dahulu melakukan pengkajian potensi sumber air di sekitar.

“Untuk Gunung Kidul sendiri, Kementerian PUPR telah membangun beberapa telaga untuk mereduksi kekeringan ekstrem. Untuk daerah lain kami siapkan 5 titik pengeboran air tanah untuk setiap balai di mana kita memiliki 34 balai. Artinya akan ada 170 titik baru,” terangnya.

“Selain itu juga, pihaknya melakukan distribusi menggunakan mobil tangki air untuk daerah-daerah yang kritis air,” sambungnya.

Sebagai antisipasi kekeringan, Direktur Bina Operasi dan Pemeliharaan Ditjen SDA Kementerian PUPR Agung Djuhartono mengimbau kepada petani, untuk disiplin dalam mengikuti rencana pola tanam yang sudah disepakati.

“Untuk waduk di bawah rencana, pola operasinya diubah karena kondisi airnya yang berkurang. Kalau tadinya musim tanam ini menanam padi, maka diubah menanam palawija yang lebih hemat air,” pungkasnya. (der/rls/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here