Garut Pecahkan Rekor Dunia Paralayang dan Gantole

25
Salah satu peserta paralayang mendarat di Desa Rancabango. (IQBAL GOJALI/RADAR GARUT)

RadarPriangan.com, GARUT – Ribuan bendera merah putih dengan berbagai ukuran terbang di langit Desa Rancabango, Kemacatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Selasa (20/8). Sang saka merah putih yang mengudara itu didominasi oleh bendera berukuran kecil, paling besar hanya berukuran sekitar 0,5×1 meter. Namun, jumlah bendera yang mencapai ribuan dan diterbangkan melalui gantole dan paralayang itu menjadi indikator pemecahan rekor dunia. 

Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat Lantas) Polres Garut AKP Rizky Adi Saputro mengatakan, pemecahan rekor dunia itu menjadi pembuka gelaran Kapolda Jabar Cup II yang dilaksanakan pada 20-22 Agustus 2018. Kegiatan itu merupakan yang kali kedua dilakukan, setelah tahun sebelumnya disambut positif oleh para pecinta olahraga gantole dan paralayang.

“Yang paling spesial adalah pemecahan rekor dunia. Itu mungkin yang pertama kali dilakukan,” kata dia, Selasa (20/8).

Selain menjadi pembuka Kapolda Jabar Cup II, pemecahan rekor itu juga masih merupakan rangkaian perayaan HUT ke-71 Republik Indonesia. Karena itu, ribuan bendera merah putih dikibarkan di angkasa. Dalam Kapolda Jabar Cup II, perlombaan yang dilakukan hanya olahraga gantole. Sementara untuk paralayang, hanya dilaksanakan untuk hiburan. 

Seluruh peserta memulai penerbangannya dari Gunung Putri, Bukit Parama Satwika, Kabupaten Garut, dengan ketinggian 1.450 meter di atas permukaan laut (mdpl). Sementara titik pendaratan untuk gantole berada di lapangan Rancabango, sedangkan paralayang mendarat di kawasan wisata domba, yang keduanya masih merupakan kawasan Desa Rancabango.

Rizky mengatakan, digelarnya Kapolda Cup merupakan respon Polres Garut dengan kepopuleran olahraga gantole dan paralayan di Indonesia, khususnya Jawa Barat. Menurut dia, dalam beberapa tahun terakhir sudah banyak dilaksanakan kegiatan gantole dan paralayang.

Polres Garut hanya memfasilitasi para atlet dan pecinta dua olahraga itu. “Tahun lalu kita juga adakan Kapolda Jaba Cup. Tahun ini yang kedua di tempat yang sama untuk menambah daya tarik wisata olahraga di Kabupaten Garut,” kata dia.

Ia mengatakan, terlaksananya Kapolda Jabar Cup juga didukung oleh berbagai pihak, di antaranya TNI dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut. Para peserta yang memgikuti loma itu pun sebagian merupakan atlet nasional. “Harapannya dengan ada kegiatan ini, daya tarik wisata Garut akan semakin kuat,” kata dia.

Meski begitu, terdapat beberapa catatan polisi sebagai penyelenggara kegiatan kepada Pemkab Garut. Catatan itu tak lain masih sulitnya akses transportasi menuju lokasi penerbangan maupun pendaratan. 

Kelaikan jalan menuju dua lokasi itu masih sangat minim. Bahkan, untuk mencapai lokasi penerbangan, para peserta harus menumpang motor offroad terlebih dahulu. Namun, Rizky menegaskan, keamanan para peserta sudah dijamin. Pasalnya semua peralatan yang digunakan telah memenuhi unsur keselamatan.

Kapolda Jabar Irjen Pol Rudy Sufahriadi sangat mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi Polres Garut itu. Apalagi, kegiatan itu juga diselingi oleh pengibaran bendera merah putih yang memecahkan rekor dunia.

“Ini merupakan inisiatif Kapolres Garut, Kapolda Cup yang kedua. Saya apresiasi kegiatan ini,” kata dia.

Insiden Kecil

Dalam kegiatan pemecahan rekor dunia itu, terdapat beberapa insiden kecil yang terjadi. Berdasarkan pantauan Republika di lokasi pendaratan paralayang, setidaknya ada empat peserta yang mendarat di luar area pendaratan.

Empat peserta itu terlihat kesulitan mendarat lantaran angin cukup kencang. Satu peserta mendarat di lahan jagung, dua peserta mendarat di area pepohonan, dan satu harus terjatu dari ketinggian sekitar 4 meter lantaran parasutnya mengalami turbulensi dan menutup sediri ketika hendak mendarat. Meski begitu, seluruh peserta mendarat dengan keadaan selamat.

Salah satu peserta paralayang, Luthfia, 23, mengatakan, kegiatan yang diadakan polisi itu sangat mendukung para komunitas dan atlet paralayan juga gantole, khususnya yang ada di Kabupaten Garut. Dengan begitu, para pecinta ketinggian itu dapat memiliki wadah untuk menyalurkan hobinya. “Kita mah senang saja, ada yang fasilitasi,” kata dia.

Meski begitu, menurut dia, lokasi paralayang dan gantole di Rancabango bukan untuk pemula. Lokasinya yang cukup tinggi, membuat angin berhenbus kencang. Jika tidak benar mengendalikan paralayang atau gantolenya, bisa terjadi kecelakaan. “Saya terbang sudah lebih dari 20 kali, di sini ke dua kali. Tapi kalau pemula mau di sini harus latihan dilu di tempat rendah,” ujar dia.

Ia mengatakan, lokasi untuk pemula berlatih paralayang di Kabupaten Garut terdapat di Kecamatan Cibatu. Namun untuk sensasi, lanjut dia, lebih menegangkan di Rancabango.

Salah satu peserta lainnya, Rahmat, 49, mengatakan, untuk mencapai lokasi pendaratan dari mulai terbang memerlukan waktu sekitar 15-20 menit. Namun, jika ingin bermain-main terlebih dahulu di udara, peserta bisa melakukannya hingga 30-60 menit. “Di sini pernah diuji coba sampai 1,5 jam pernah. Asal angin bagus mah bisa,” kata dia.

Pecahnya Rekor Dunia

Indonesia Vice President of Record Hoder Republic, Lia Mutisari mengatakan, rekor yang ditorehkan pada Kapolda Cup II adalah pengibaran bendera terbanyak dengan penerbangan paralayang dan gantole. Setidaknya, terdapat 107 peserta, 56 peserta paralayang dan 51 peserta gantole, yang membawa 1.200 bendera merah putih. 

Menurut dia, kegiatan serupa seperti ini sebelumnya tidak pernah terjadi. Biasanya, lanjut dia, pemecahan rekor hanya peserta terbanyak. Namun, saat ini terdapat kombinasi antara paralayang dan gantole yang membawa bendera merah putih.

“Sebelumnya ada yang mencoba memecahkan rekor dunia dengan mengibarkan bendera terbesar dengan paralayang, tapi gagal. Sekarang, dengan peserta banyak rekor bendera sudah tercapai,” kata dia.

Ia mengungkapkan, awalnya Polres Garut hendak memecahkan rekor dunia dengan membawa 100 bendera dari negara-negara di dunia. Namun, lantaran masih dalam rangkaian HUT ke-74 RI, penerbangan bendera diubah jadi bendera merah putih.

Ia mengatakan, awalnya Polres Garut juga hanya mendaftarkan peserta sebanyak 100 orang. “Tapi setelah kami kroscek sendiri ternyata lebih banyak,” kata perempuan yang juga ikut ikut terbang didampingi atlet paralayang. (igo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here