E-Commerce Menggeliat, Sektor Riil Lesu

115

RadarPriangan.com, JAKARTA – Menggeliatnya perusahaan-perusahaan start up di Tanah Air membuat resah para pengusaha di sektor riil. Mereka menilai pemerintah terlalu membanggakan e-commerce ketimbang bisnis di bidang properti.

“Jutaan miliar dolar masuk ke Indonesia ke start up, tapi kita tahu itu hanya bakar uang tapi sebenarnya seperti Gojek, Bukalapak itu semuanya rugi. Meski begitu kita bersyukur mereka bisa besar di ASEAN bahkan Asia, tapi kita butuh riil sektor yang bergerak,” kata Ketua Gabungan pengembang Real Estate Indonesia (REI) DKI Jakarta, Amran Nukman dalam acara Diskusi bertajuk “4,5 Tahun Curhatan Pelaku Usaha: Realita dan Derita Pengusaha Kecil Sampai Besar” di Hotel Century Park, Jakarta, Senin (8/4).

Dan yang disesalkan Amran, adalah pembatalan pajak e-commerce, sehingga Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ada di e-commerce tidak terserap.

Selain itu menurutnya, para pengusaha real estate sedang gelisah dengan kebijakan pemerintah saat ini, karena menurutnya tidak mendapat perhatian lebih dari pemerintah sehingga pertumbuhan ekonomi dari properti stagnan.

“Kegelisahan para pengusaha kita ini merasakan sektor riil tidak bergerak, ekonomi kita semua fokus pada e-commerce. Usaha properti hancur. Tidak ada satupun properti yang bergerak,” ujar Amran .

Kendati demikian, Amran mengakui pertumbuhan ekonomi memang terjadi. Namun yang sangat disayangkan adalah pertumbuhan ekonomi bukan pada sektor riil, namun hanya pada e-commerce.

Kesempatan yang sama, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryani Motik menilai pemerintah kebijakan pemerintah terlalu condong pada BUMN, sehingga para pengusaha swasta menjadi lesu. Dengan demikian, bisa ‘membunuh’ secara perlahan para pengusaha swasta.

“Yang kita lihat yang menggeliat BUMN, karena sinergi BUMN yang kebablasan. Sinergi BUMN mendirikan anak cucu perusahaan, sehingga yang tadinya pengusaha swasta bisa supply (sekarang tidak),” kata Suryani.

Lanjut Suryani, kecendrungan pemerintah yang terlalu membanggakan e-commerce juga membuat lapangan pekerjaan menjadi berkurang.

“Toko-toko pada sepi, pindah ke e-commerce. Kita memaklumi e-commerce, tapi sektor rill itu menciptakan lapangan pekerjaan lebih besar,” ucap dia.

Seperti diketahui, Kontribusi sektor riil pada real estate terhadap pertumbuhan ekonomi cenderung stagnan dari tahun ke tahun. Tiga tahun terakhir, porsi sektor properti, yang terdiri dari konstruksi dan real estate, terhadap produk domestik bruto berkisar 13%.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi sektor konstruksi terhadap PDB tahun 2016 sebesar 10,38%. Tahun 2017, kontribusi konstruksi turun tipis yaitu 10,38% terhadap PDB.

Sementara kontribusi sektor real estate terhadap PDB tahun 2016 sebesar 2,82%. Kontribusi sektor real estate mencatat penurunan di tahun 2017 menjadi 2,79% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Jika ditotal, kontribusi sektor properti secara keseluruhan pada 2016 dan 2017 masing-masing sebesar 13,20% dan 13,16% terhadap PDB.(ibl/din/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here