Dimensia, Serang Jamaah Usia Lanjut

87
Tim Mobile Kemenkes menangani jamaah haji lansia yang mengeluhkan pegal-pegal dan kelelahan. (Dok. Kemenkes)

RadarPriangan.com, JAKARTA -Penyakit demensia atau yang lebih dikenal dengan bahasa awam pikun merupakan kasus yang banyak dijumpai pada jamaah haji lanjut usia di Arab Saudi pada musim haji 2019. Gejala demensia atau kondisi yang ditandai dengan penurunan setidaknya dua fungsi otak seperti hilangnya memori dan kemampuan menilai.

Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan yang diterima Fajar Indonesia Network (FIN), terdapat beberapa jamaah haji yang menjalani perawatan oleh petugas medis terkait demensia sejak kelompok terbang pertama datang pada Sabtu (6/7).

Gangguan kesehatan seperti yang dialami jamaah haji wanita berusia 78 tahun asal Kepulauan Riau yang ditangani Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah kerap dijumpai pada kelompok lanjut usia (geriatri). Kondisi diperberat dengan kurangnya konsumsi cairan.

“Setelah kita berikan cairan dan terapi kondisinya cukup membaik dan tadi pagi sudah kita pulangkan,” kata Kepala Pelayanan Medik KKHI Madinah dr Az Hafid Nashar, kemarin (8/7).

Gejala demensia atau kondisi yang ditandai dengan penurunan setidaknya dua fungsi otak seperti hilangnya memori dan kemampuan menilai, juga dialami oleh jamaah haji laki-laki yang berusia 76 tahun dari Surabaya.

Selain demensia, beberapa jamaah juga telah dirawat di KKHI Madinah terkait dengan jamaah yang terjatuh atau terkilir. Satu jamaah bahkan mengalami retak pada tempurung lutut dan harus menjalani operasi di rumah sakit Arab Saudi.

Terpisah Kepala Pusat Kesehatan Haji Eka Jusup Singka mengatakan semua pasien harus dikelola dengan baik. Terutama asupan cairan dan gizi yang harus diperhatikan agar kasus-kasus seperti yang terjadi pada kelompok lansia tersebut dapat cepat tertangani.

KKHI Madinah memberikan layanan kesehatan dasar dan spesialistik. Klinik yang baru saja diresmikan pada Mei 2019 lalu ini mempunyai 14 dokter umum, 13 dokter spesialis, 33 perawat dan beberapa tenaga kesehatan lainnya seperti ahli gizi, rekam medik dan sanitarian.

Fasilitas kesehatan berlantai lima tersebut memiliki fasilitas lengkap mulai dari UGD, ICU, depo obat, laboratorium, ruang rawat inap hingga kamar tidur bagi petugas kesehatan haji daerah kerja Madinah dan bandara.

Layanan yang diberikan KKHI tidak bersifat eksklusif hanya melayani jamaah haji reguler Indonesia saja. Jamaah haji khusus dan warga negara Arab Saudi jika memang membutuhkan layanan kesehatan akan tetap dilayani.

“Berkaca dari layanan tahun-tahun sebelumnya, penyakit yang sering ditangani di KKHI Madinah di antaranya luka diabetes, kaki melepuh dan heat stroke (sengatan panas),” jelasnya.

Sementara itu, sebanyak empat orang calon haji calhaj kelompok terbang (kloter) tiga Embarkasi Pondok Gede, Jakarta Timur dirujuk ke Rumah Sakit Haji Jakarta karena diduga mengidap penyakit.

“Empat orang calhaj ini masih dalam proses perawatan dan pemeriksaan kesehatan, jadi kami masih menunggu hasil rujukan dokter spesialis,” kata Kepala Bidang Kesehatan PPIH Embarkasi Pondok Gede, Ade Erma di Jakarta, kemarin.

Ia mengatakan jika hasil rujukan telah dikeluarkan oleh dokter spesialis, maka langsung dikoordinasikan dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) terkait keberangkatannya ke Tanah Suci di Arab Saudi.

Kepada calon haji yang telah berangkat dan akan berangkat pada kloter selanjutnya, ia berpesan beberapa hal. Pertama agar menjauhi unta karena satwa tersebut salah satu penular virus Mers-VOC.

Kedua, para calon haji asal Indonesia diminta agar lebih banyak meminum air putih, minimal dua liter per hari karena saat ini suhu di Arab Saudi mencapai 50 derajat Celcius.

“Kami juga menyarankan agar para calon haji untuk lebih banyak mengonsumsi buah-buahan dan menggunakan masker,” kata Ade Erma.

Sementara itu, Ketua PPIH Embarkasi Pondok Gede, Saiful Mujab mengatakan para calon haji yang sakit masih dapat berangkat di kloter selanjutnya.

“Jamaah calhaj yang sakit berdasarkan saran dokter ditunda dulu, nanti kalau sudah sembuh kita gabungkan dengan kloter selanjutnya,” kata dia.

Pihaknya mengkhawatirkan apabila calon haji yang dalam kondisi sakit tetap dipaksakan berangkat, maka bisa berakibat fatal terutama menyangkut kesehatan.

“Oleh sebab itu, PPIH tidak ingin mengambil risiko dengan memaksakan calon jemaah haji yang sakit tetap berangkat ke Tanah Suci,” kata Saiful Mujab. (ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here