Di Balik Viralnya Erwin, Anak SD yang Berjualan Bakso Tahu

201
Imas Masitoh, saat ditemui di rumahnya di Kampung Siderang Legok, Desa Cintanagara, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut. (IQBAL GOJALI/RADAR GARUT)

Ternyata Ada Motif dari Kepala Madrasah yang Ingin Dapat Bantuan

RadarPriangan.com, GARUT – Beberapa hari ke belakang, nama Erwin, bocah asal Cigedug ini ramai menjadi perbincangan, karena aksinya berjualan baso tahu saat sekolah. Namun tak disangka ternyata, viralnya Erwin ini ada motif dari Kepala Madrasah yang berharap agar sekolahnya mendapat bantuan dari pemerintah.

Seperti apa cerita Erwin Utama yang sebenarnya. Berikut laporan reporter Radar Garut, Iqbal Gojali.

Imas Masitoh, 47, warga Kampung Siderang Legok, Desa Cintanagara, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut tidak menyangka kalau kegiatan anaknya yang bernama Erwin Utama, 9, berjualan baso tahu akan menjadi perbincangan banyak orang. Padahal ia sendiri bersama suaminya, Uyu Sutisna, 39, selama ini sudah melarang anaknya berjualan baso tahu.

Foto viral Erwin yang berjualan bakso tahu sambil sekolah. (Istimewa)

Di rumahnya, Imas bercerita bahwa selama ini anaknya memang tidak tinggal bersama dirinya dan suaminya. Sehari-hari, Imas menjadi asisten rumah tangga di salah satu rumah di Kopo Permai, Bansung. Sedangkan suaminya menjadi penjual cireng di Kopo Sayati, Bandung.

Meski penghasilannya tidak sebesar harapannya, Imas mengaku tidak pernah membayangkan video anaknya berjualan baso tahu menjadi perbincangan banyak orang.

“Meski kami orang tidak mampu, tapi kami tidak mau dikasihani orang lain,” ucapImas.

Selama ini, Imas mengaku selalu melarang anaknya berjualan baso tahu dan selalu mengirimi anaknya uang setiap bulan.

Menurutnya, sebagai orang tua sudah sewajarnya memberikan pendidikan yang maksimal bagi anaknya dan memenuhi apa yang dibutuhkan, semampunya.

“Sudah sering saya larang, dan kalau ditanya ke Erwin atau ke uwanya suka bilang tidak jualan. Tapi ternyata tiba-tiba video saat Erwin jualan jadi perbincangan banyak orang seakan mengundang iba. Padahal saya tidak mau seperti itu,” ucapnya.

Setelah video Erwin berjualan ramai, Imas mengaku bersama suaminya pulang ke Garut untuk menemui anaknya. Di rumahnya yang berada di kaki gunung Cikuray, Erwin kepada orang tuanya mengaku sudah dua bulan berjualan baso tahu milik uwanya, Diah yang merupakan kakak ayahnya.

Erwin juga kepada Imas dan Uyu, mengaku tidak pernah dipaksa untuk berjualan oleh siapapun, namun murni karena keinginannya untuk mendapatkan uang jajan tambahan.

“Erwin ini jualan gantian dengan dua teman lainnya yang bernama Fahri dan Jilal. Ada juga anak lain yang usianya sudah lebih besar. Di sini memang ada yang suka jualan begitu,” jelas Imas.

Imas juga mengaku, beberapa hari kemarin ia sempat tiga kali menerima bantuan. Dua orang yang memberikan bantuan berasal dari Bandung, sedangkan satunya lagi dari Garut.

“Sekarang Erwin dengan ibu Kepala Sekolahnya sedang di Jakarta. Tadi malam berangkatnya, berikut yang suka dipake jualannya juga dibawa,” katanya.

MI Al-Muttaqin tempat Erwin Utama bersekolah.

IKetua RW 04, Desa Cintanagara, Kecamatan Cigedug, Indin Jalaludin menjelaskan bahwa awal mula ramainya video anak di wilayahnya adalah karena keinginan Kepala Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Al-Muttaqin untuk mendapatkan bantuan pemerintah.

Ia menjelaskan bahwa selama ini sang kepala madrasah beberapa kali mengajukan bantuan namun tak kunjung turun juga.

“Saya juga gatau gimana awalnya, tiba-tiba saja kepikiran untuk mengambil gambar Erwin saat jualan untuk diupload di media sosial sampai kemudian ramai seperti sekarang ini. Memang tidak salah karena Erwin termasuk keluarga tidak mampu, tapi tujuannya ya untuk bisa mendapatkan bantuan sekolah,” ucapnya.

Kabid Perlindungan Anak pada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA), Rahmat Wibawa menyebut bahwa pihaknya tidak menemukan unsur eksploitasi anak pada kasus Erwin yang menjual baso tahu.

Rahmat mengatakan bahwa di Kampung Siderang Legok, Desa Sukanagara, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut terdapat empat orang yang biasa berjualan baso tahu. Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan pihaknya, para anak hanya ingin mendapagka uang tambahan untuk jajan karena kondisi keluarganya yang kurang mampu.

“Kita tadi ke rumahnya Erwin langsung bersama Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Jabar Quick Response, DP3AKB, unsur Pekerja Sosial TKSK, dan Koordinator Pendidikan Cigedug. Kita juga menunggu perwakilan dari Departemen Agama karena sekolah ini di bawah naungan Depag,” ujarnya, Rabu (8/6).

Ia juga mengungkapkan, berdasarkan keterangan Ketua RW 04, Desa Cintanagara, ramainya kasus Erwin memang tidak lepas dari kepentingan pihak madrasah yang ingin mendapat bantuan. Salah satu upaya yang dilakukan kemudian adalah mengunggah foto Erwin yang sedang berjualan baso tahu ke media sosial.

Erwin dan temannya yang suka berjualan baso tahu, disebut Rahmat hanya berjualan di lingkungan sekolah saja. Biasnya berjualan ketika sebelum masuk sekolah, istirahat jam pelajaran, dan usai bubaran sekolah.

“Jadi mungkin ada keinginan dari sekolah agar dapat bantuan karena sarana dan prasarana masih kurang. Terlepas dari ramainya kasus ini, sudah jadi kebiasaan di sini anak-anak berdagang tapi memang ada kurang paham soal ketahanan keluarga dari masyarakat,” katanya.

Sementara Komandan Koramil Bayongbong, Kapten Infanteri Jaja mengaku pihaknya juga akan terlibat aktif dalam menyikapi permasalahan tersebut. Ketika berita Erwin ramai diperbincangkan, ia mengaku sudah melakukan penyelidikan melalui Babinsa untuk mengetahui asal muasal ramainya video yang beredar.

“Hasil penyelidikan kita memang seperti itu. Ada keinginan pihak sekolah untuk mendapatkan bantuan. Namun tentunya kita kaitannya kemudian dengan ketahanan wilayah yang salah satunya berkaitan dengan ketahanan ekonomi. Kita akan perhatikan hal tersebut,” ungkapnya.

Jaja juga mengungkapkan bahwa madrasah tempat Erwin sekolah, berdasarkan informasi yang diterimanya dari Kepala Desa akan menerima bantuan yang sumbernya dari dana desa di tahun 2020. Namun ia juga belum mengetahui secara pasti dengan apa yang dilakukan kepala madrasah larena belum sempat bertatap muka langsung dengannya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here