Desa Padasuka Tolak Gabung DOB Garut Selatan, Rujukan Kesehatan dan Administrasi jadi Jauh

132
Kades Padasuka, Ajang Suherman

GARUT – Desa Padasuka, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut melaksanakan musyawarah desa (musdes) dalam rangka menentukan sikap masyarakat terhadap DOB (Daerah Otonomi Baru) Garut Selatan, Senin (02/11/2019).

Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Padasuka selaku pelaksana atau fasilitator musdes bersama Pemerintah Desa, mengundang sejumlah unsur masyarakat. Sebanyak 65 orang hadir yang terdiri dari tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan, RT/RW, unsur kesehatan, dan unsur lainnya.

Kepala Desa Padasuka, Ajang Suherman menjelaskan, warga Desa Padasuka sepakat menyatakan dukungannya terhadap DOB/pemekaran Garut Selatan, tapi untuk Desa Padasuka menolak untuk bergabung dengan DOB Garut Selatan tersebut.

” Hasilnya secara serentak masyarakat warga Padasuka banyak pandangan tadi, banyak masukan terkait berbagai hal yang menyangkut pemekaran termasuk alasan-alasan yang sangat riil dan logis akhirnya menyetujui pemekaran Garut Selatan dan menolak bergabung ke Garut Selatan. Jadi (tetap) bergabung ke Garut induk atau Garut Kota,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya.

” Dan alhamdulillah dalam hal ini yang mengundang dan menjadi pelaksana adalah BPD, kami sebatas memfasilitasi dan alhamdulillah sudah terlaksana dengan tertib dan lancar,” tambahnya.

Jadi dalam hal ini warga Desa Padasuka tidak menentang adanya pemekaran atau DOB Garut Selatan. Warga Padasuka mempersilahkan warga Garut Selatan untuk pemekaran, tapi mereka menolak jika dimasukan dalam bagian Garut Selatan.

” Secara umum tidak menentang, justru mendukung pemekaran tapi menolak bergabung ke Garut Selatan. itu suara aspirasi masyarakat Desa Padasuka dan kami dalam hal ini tidak ada intervensi itu mutlak, itu resmi kemauan dan aspirasi dari masyarakat,” tegasnya.

Adapun alasan warga Desa Padasuka menolak bergabung dengan DOB Garut Selatan, pada umumnya sama dengan desa lain yang menolak, yaitu karena akses ke ibu kota yang jauh. Sehingga mempersulit dalam membuat administrasi kependudukan maupun administrasi di bidang kesehatan.

“Yang kami tangkap tadi pertama dalam sisi pelayanan administrasi, yang kedua ada juga mewakili masyarakat tadi yang berbicara dasi sisi pelayanan kesehatan. Tidak terbayang ketika harus ada rujukan dari puskesmas Cikajang ke Garut Selatan dan dari Garut Selatan harus ke Bandung. Mungkin itu jadi kajian-kajian riil seperti itu adanya jadi keberatan akan hal itu,” ujarnya.

” Kedua ada juga yang mungkin mempertimbangkan dalam hal pembuatan administrasi-administrasi kebutuhan masyarakat ketika berbicara jarak tempuh antara Garut Selatan ke Garut Kota lebih efektif ke Garut Kota,” tambahnya.

Ketua BPD Desa Padasuka, Bubun Bunyamin menyampaikan, musdes yang dilaksanakan tersebut berjalan lancar, tidak ada kendala atau perdebatan di tengah masyarakat.

Seluruhnya sepakat menyatakan sikap mendukung adanya pemekaran Garut Selatan, tapi menolak bergabung.

“Alhamdulillah musdes hari ini berjalan lancar dan untuk Desa Padasuka khususnya dari musdes barusan itu sepakat semuanya mendukung pemekaran Garut Selatan tapi menolak bergabung ke Garut Selatan,” tegasnya.

” Melihat pemaparan dari warga itu secara teknis sangat sederhana sih, mulai dari jarak, terus pelayanan yang tadinya dekat jadi jauh. Segi kesehatan juga orang puskesmas barusan ada yang ngobrol, kalau rujukan misalkan ke kabupaten ke Pamengpeuk terus harus dirujuk lagi ke Hasan Sadikin Bandung, itu sangat kasihan sekali kepada pasien. Artinya tidak dalam hal normatif tapi lebih ke teknis,” tambahnya.

Dalam hal ini kata Bubun, BPD dan Pemerintah Desa hanya sebagai fasilitator, tidak dalam rangka mengarahkan keputusan masyarakat. “Karena ini amanat undang-undang,” katanya. (fer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here