Charly Family Karaoke, Larang Pakaian Mini dan Miras

211
Julia, pengelola Charly Family Karaoke (tengah) bersama karyawan

*Tempat Karaoke yang Nyaman Bagi Keluarga

GARUT – Sikap tegas Julia (39) pengelola Charly Family Karaoke dalam melarang maksiat membuahkan hasil. Citra baik Charly Family Karaoke berhasil dibentuk menjadi tempat karaoke yang nyaman bagi kelaurga dan jauh dari hal-hal negatif.

Pada awalnya di enam bulan pertama, omzet perusahaan memang sempat turun drastis. Namun seiring komitmen untuk menciptakan tempat karaoke yang jauh dari hal negatif, kondisi perusahaan berangsur baik hingga sekarang.

“Namanya juga kan Charly Family Karaoke, jadi kita memang pure keluarga. Jadi konsepnya bahwa tempat ini jadi satu tempat hiburan yang nyaman bagi keluarga,” kata Julia saat ditemui di Charly Family Karaoke di jalan Cimanuk, Kecamatan Tarogong Kidul, Rabu (04/12).

Nah bagi pengunjung harus diingat seperti ini larangan yang harus dipatuhi jika ingin berkunjung ke Charly Family Karaoke. Seperti apa itu aturannya? Berikut kata Julia.

Pertama pengunjung atau siapapun wajib menggunakan pakaian sopan dan dilarang menggunakan pakaian mini, seperti rok di atas lutut bagi perempuan.

” Jadi di Charly itu segala sesuatunya kita coba untuk diatur agar nyaman bagi semuanya. Seperti kita tidak perbolehkan pengunjung perempuan untuk datang pakai rok di atas lutut. Dalam artian saya perempuan dan sebagai pengelola mempunyai kewajiban untuk menjaga harkat martabat perempuan,” ujarnya.

” Kenapa itu saya himbau pengunjung perempuan pakai pakaian sopan supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, mungkin pelecehan secara visual atau non visual atau apapun. Kita tidak mau perempuan itu, siapun dia dan apapun profesinya dipandang sebelah mata hanya karena pakai pakaian mini,” tambahnya.

Bahkan Julia sering melarang pengunjung yang datang menggunakan pakaian kurang sopan seperti rok di atas lutut. Tak jarang pengunjung yang dilarang tersebut tidak terima atas kebijakan tersebut. Namun Julia tetap tegas berusaha menegakkan aturan main perusahaan.

Dan aturan itupun dia terapkan pertama kali kepada karyawan Charly Family Karaoke. Semua karyawan perempuan diwajibkan menggunakan hijab (kerudung). Begitu pun dengan karyawan pria, wajib menggunakan pakaian sopan.

“Saya hanya mencoba menjadi perempuan yang baik dan menjaga keormatan perempuan-perempuan yang lainnnya yang datang ke tempat saya karena kewajiban saya seperti itu. Karyawan saya juga yang perempuan kebetulan juga muslim saya wajibkan pakai kerudung. Buat saya itu kewajiban ya terlepas ketika mereka nanti di luar pakai apa itu urusan mereka tapi kalau mereka sama saya maka saya harus jaga mereka,” tegasnya.

“Kalau tamu yang gak setuju atau protes banyak sih. Kembali lagi setiap perusahaan punya aturan. Perusahaan manapun punya aturan sendiri dan siapapun yang masuk atau berkunjung seyogyanya harus ikuti aturan dimana tempat tersebut dikunjungi. Supaya segala sesuatu berjalan baik demi  kebaikan kedua belah pihak, pengunjung nyaman tuan rumah juga ok,” katanya.

Kemudian larangan lain di Charly Family Karaoke yaitu dilarang membawa minuman keras (miras). Dan Charly Family Karaoke komitmen hingga sekarang tidak pernah menjual minuman beralkohol.

Hal itu kata Julia, juga upaya untuk menghormati Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Garut tentang larangan minuman keras.

“Sesuai perda karena di Garut kan ada perda yang mengatur bahwa Garut itu minim alkohol. Kalau yang namanya perda kan harus diikutin gak ada dispensasi atau pengecuaian. Karena dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” kata Julia.

Kemudian Julia juga tetap komitmen tidak memberikan ruang bagi wanita pendamping lagu (PL) untuk masuk dalam bagian Charly Family Karaoke. Tidak ada PL yang dipekerjakan di Charly Family Karaoke. Adapun yang terlihat di luar Charly itu adalah mereka yang sifatnya freelance.

“Karena kita memang gak ngebolehin. Kalau perempuan nongkrong di depan Charly itu mereka freelance mereka tidak terikat dengan kita. Karena saya perempuan saya ingin membantu lah memberikan tempat ya minimal untuk mereka duduk, gak ada yang salah kan. Selama mereka tidak duduk di perusahaan saya. Karena kalau mereka sudah masuk ke dalam Charly mereka sudah masuk ke ranah saya yang sudah masuk tanggung jawab saya,” katanya.

Berkat ketegasan Julia, PL yang kerap nongkrong di depan Charly pun akhirnya sadar dan taat aturan. Semuanya bersikap baik dan berpakaian sopan.

“Mereka sejauh ini taat aturan, sopan tidak berbusana yang mini atau seronok juga ikut membantu kawasan dengan bersih-bersih sampah,” katanya. Selain itu tentu masih banyak aturan lain yang tidak disebutkan. Yang pada intinya setiap perbuatan yang negatif dan maksiat Julia tegas untuk tidak memperbolehkan di tempatnya. Hal itu juga sebagai upaya menghormati lingkungan sekitar yang agamis. (fer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here