Beberapa Kali Mangkir dari Pemeriksaan, Joko Driyono Akhirnya Dibui

123
Joko Driyono (jpg))

RADARPRIANGAN.COM, JAKARTA – Setelah lama menggantung, Satuan Tugas (Satgas) Anti-Mafia Bola akhirnya resmi menahan Mantan Pelaksana Tugas (plt) Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Joko Driyono.

Pria yang akrab disapa Jokdri itu ditahan Satgas Anti-Mafia Bola di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (25/3). Penahanan ini dilakukan setelah beberapa kali Jokdri diperiksa sebagai saksi dan tersangka pada skandal pengaturan skor sepakbola Indonesia.

Ya, Jokdri sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka dalam tindak pidana pencurian dengan pemberatan memasuki dengan cara membongkar, merusak, atau menghancurkan barang bukti yang telah dipasang garis polisi oleh penguasaan umum di kantor Komisi Disiplin PSSI, pada 14 Februari 2019.

Pria asal Ngawi itu diduga menjadi dalang perusakan sejumlah dokumen yang berkaitan dengan pengaturan skor sepakbola nasional yang dilakukan oleh anggota Komisi Disiplin PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih.

“Dalam proses pemeriksaan hingga Maret, tersangka beberapa kali tidak hadir. Jadi, pada hari ini pukul 10.00 WIB tadi, saudara JD diperiksa, lalu kami gelar perkara sekitar pukul 14.00 WIB dan melakukan penahanan terhadap saudara Joko Driyono,” ujar Kepala Satgas Anti-Mafia Bola Polri Brigjen Hendro Pandowo di Mabes Polri, Jakarta, kemarin.

Hendro mengatakan penahanan dilakukan dengan pertimbangan seluruh proses pemeriksaan terhadap Jokdri telah selesai. Oleh karena itu, pihaknya tak punya alasan untuk tidak menahan Jokdri.

Penahanan terkait kasus pencurian serta perusakan dan penghilangan barang bukti terkait kasus pengaturan skor yang tengah ditangani penyidik di Kantor Komdis PSSI. Jokdri dikenakan pasal 363 KUHP terkait pencurian dan pemberatan, kemudian pasal 232 KUHP tentang perusakan pemberitahuan dan penyegelan.

Lalu, pasal 233 KUHP tentang perusakan barang bukti dan yang terakhir adalah pasal 235 KUHP terkait perintah palsu untuk melakukan tindak pidana yang disebutkan di pasal 232 KUHP dan 233 KUHP dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara. “Penahanan dilakukan selama 20 hari ke depan terhitung sejak hari ini tanggal 25 Maret 2019 sampai 13 April 2019 di Rutan (rumah tahanan) Polda Metro Jaya,” tutur Hendro.

Sekitar pukul 10.00, kuasa hukum Jokdri Andri Brimaseta mengantarkan kliaennya memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik Satgas Antimafia Bola di gedung Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Dalam kesempatan itu, Andri sempat memberi keterangan kepada awak media terkait proses pemeriksaan kliennya yang masih berlangsung sekitar dua jam. Menurut dia, mantan Plt Ketum PSSI sudah dicecar sejumlah pertanyaan oleh tim Satgas terkait dari penggeledahan di kantor PSSI, perusakan, hingga aliran dana di rekeningnya.

Terkait kasus perusakan barang bukti di kantor Komdis, Andri mengaku, kalau pihaknya tidak bisa memastikan apakah barang bukti yang dirusak berkaitan dengan kasus pengaturan skor. Sehingga, belum dapat menyampaikan apapun.

“Kalau barbuk terkait pengaturan skor ada atau tidak, kita belum bisa bilang ke situ, karena sampai sekarang belum ada kaitannya atau tidak dengan pengaturan skor,” katanya.

Selang putusan penahanan klien sekitar pukul 14.00, Andri Bimaseta lebih banyak diam. Saat dikonfirmasi, ia belum bisa memberikan tanggapan apapun, terkait penahanan kliennya tersebut. Termasuk saat disinggung, langkah kedepannya dalam memberikan pembelaan hukum kepada Jokdri. “Kami belum ada tanggapan apapun mas,” singkatnya saat dihubungi Fajar Indonesia Network melalui pesan singkatnya.

Menanggapi penangkapan Jokdri, Anggota komite Eksekutif (Exco) PSSI, Yoyok Sukawi mengaku bahwa dirinya baru mengetahui penahanan terhadap Jokdri dari media online yang sudah banyak memberitakan terkait penahanan Jokdri tersebut.”Iya (benar Jokdri dilakukan penahanan oleh Satgas Anti-Mafia Bol). Itu juga saya taunya dari media online,” ungkap Yoyok saat dikonfirmasi oleh Fajar Indonesia Network (FIN), kemarin.

Lebih lanjut, Chief Executive Officer (CEO) PT Mahesa Jenar selaku pengelola PSIS Semarang itu juga mengatakan bahwa dalam hal ini Exco PSSI menghormati apapun keputusan hukum yang dilakukan oleh Satgas Anti-Mafia Bola.”Kami Exco PSSI menghormati proses hukum. Kami menyerahkan sepenuhnya kepada Satgas (Anti-Mafia Bola),” tegasnya.

Sebelum Jokdri dilakukan penahanan, Exco PSSI telah menunjuk salah anggotanya, Gusti Randa untuk menjabat sebagai Plt Ketum PSSI menggantikan Joko Driyono. Joko Driyono sendiri terpaksa non aktif dari jabatannya lantaran harus menjalani proses hukum tersebut.

Selain Jokdri, sejauh ini Satgas Anti-Mafia Bola sudah menentapkan 15 orang sebagai tersangka. Mereka adalah para anggota Exco PSSI, anggota Komisi Disiplin PSSI, Komite Wasit, wasit, juga sopir Jokdri, Muhammad Mardani alias Dani, Musmuliadi alias Mus seorang pesuruh di PT Persija, dan Abdul Gofar pesuruh di PSSI.

Muhammad Mardani, Mudmuliadi dan Abdul Gofar diduga menjadi pemantik tersangkutnya Jokdri sebagai tersangka. Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus perusakan barang bukti. Diduga ketiganya, ditugaskan oleh Jokdri untuk memusnahkan barang-barang bukti itu. (gie-mhf/fin/tgr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here