Bebegig Sukamantri Raih Juara Nasional

22
Senin bebegig Sukamantri, Kabupaten Ciamis meraih juara pada helaran budaya nasional di TMII, Jakarta. (istimewa)

RadarPriangan.com, CIAMIS – Kabupaten Ciamis mewakili Jawa Barat memiliki berbagai macam budaya dan kesenian. Salah satunya  Bebegig Sukamantri. Di even Parade Wira Budaya/Pawai Budaya Nusantara 2019 di TMII Jakarta, Sanggar Seni Bebegig Baladdewa dari Sukamantri, Kabupaten Ciamis meraih juara umum.

Eman Hermansyah SPd, kasi Pembinaan Kesenian Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Ciamis membenarkan kesenian asal Ciamis berhasil mengharumkan Jawa Barat di pentas nasional, bahkan menjadi juara umum yang diselenggarakan di Plaza Tugu Api Pancasila TMII, Kakarta.

Eman mengatakan, dalam pentas Pawai Budaya Nusantara yang diikuti 18 provinsi tersebut, seni bebegig Sukamantri berhasil meraih juara penata atraksi terbaik dan arak-arakan terbaik. Sehingga berhak meraih juara umum Pawai Budaya Nusantara TMII 2019 kemarin.

“Alhamdulilah seni bebegig Sukamantri dapat mengharumkan  Kab Ciamis serta mengantarkan Jawa Barat meraih piala bergilir dan piala tetap dari Menteri Pariwisata, serta uang pembinaan dari Direktur Utama TMII,” ujarnya.

Eman menjelaskan, dalam kompetensi helaran budaya nusantara, Jawa Barat sendiri membawakan cerita Bebegig Sumatri, sebuah suguhan seni tradisi dari Kabupaten Ciamis memang serat dengan makan dan filosopi daerah.

“Kita patut bangga punya seni bebegig yang menasional yang dapat mengharumkan kab Ciamis walapun memang banyak seni dan tradisi di kabupaten ciamis lainnya juga yang nanti bisa berlaga di nasional,” ujarnya.

Sementara itu, ketua Sanggar Seni Bebegig Baladdewa Sukamantri Cucu Vanji Hidayat, 46, menuturkan bahwa kegiatan helaran tingkat nasional sangat refresentatif dan kreatif, yang mana dapat menumbuhkembangkan seni-seni tradisonal di daerah. bahkan diharapkan seni helaran yang khas dan unik akan lahir lagi yang mana dapat memberikan nuansa lain dan inovatif bahkan dapap memberikan nilai edukasi kepada generasi muda.

Cucu mengatakan, seni bebegig sendiri berasal dari Sukamantri yang merupakan daerah paling Utara Ciamis berbatasan dengan Kabupaten Majalengka. Kesenian tradisional ini memiliki filosofi yang begitu kuat sesuai dengan tempatnya berkembang.

Menurut cucu, seni bebegig, sangat berkaitan erat dengan wilayah sebelah Utara Desa Sukamantri, yang disebut Tawang Gantungan, sebuah bukit dengan hutan larangan yang masih dianggap keramat dan angker itu dipercaya masyarakat sekitar sebagai bekas kerajaan. 

Dulu orang yang berkuasa di wilayah Tawang Gantungan pada waktu itu adalah Prabu Sampulur, yang dikenal sakti dan juga cerdik. Untuk menjaga daerah tersebut dari orang yang punya niat jahat, dibuatlah topeng-topeng dari kulit kayu yang dibuat sedemikian rupa menyerupai wajah yang menyeramkan.

Sementara untuk rambutnya terbuat dari ijuk kawung (aren) yang terurai panjang ke bawah, dilengkapi atribut mahkota dari kembang bubuay dan daun waregu yang tersusun rapi di atas kepala topeng, dihiasi kembang hahapaan dan daun pipicisan. Atribut tersebut diambil dari tanaman liar yang tumbuh subur di daerah tawang gantungan.

Selanjutnya topeng-topeng kulit kayu yang dibuat oleh Prabu Sampulur dipasang dipohon-pohon besar yang ada di sekitar Tawang Gantungan. Konon, karena kesaktiannya bila ada orang yang berniat jahat melihat topeng tersebut seolah-olah melihat makhluk tinggi besar menyeramkan dan membuat takut orang.

Dari cerita itu para seniman Sukamantri terus melestarikanya sebelum bebegig yang berupa karakter makhluk menyeramkan dipentaskan, para pelaku seni bebegig terlebih dahulu mengumpulkan bahan-bahan yang terbuat dari alam, seperti karakter rambut gimbal terbuat dari bubuay atau bunga rotan badak.

“Sedangkan untuk kostumnya, mereka akan mengambil ijuk kawung serta bebagai macam aksesoris berbahan alam yang diambil dari hutan,” pungkas Cucu. (mg1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here