Bawa Biji Kopi Desa Barusari, Aries Sontani kembali Juara Kontes Kopi Nasional

543
Aries Sontani empat dari kiri foto bersama dengan Pemerintahan Desa Barusari dan Pengurus BUMDes di kediamannya. (FERI CITRA BURAMA/RADAR GARUT)

RadarPriangan.com, GARUT – Nama Aries Sontani, pemilik merk D’Arffi Coffee tampaknya sudah tak asing lagi di dunia perkopian. Pria asal Kampung Dayamukti, Desa Sirnajaya, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut ini kembali menyabet juara tingkat Nasional di kontes kopi specialty Indonesia ke-11 yang diselenggarakan di gedung budaya Sabilulungan, Soreang, Kabupaten Bandung, Sabtu (19/10/2019).

Aries Sontani dalam kontes kopi Specialty Indonesia ke-11 itu meraih juara 2 tingkat Nasional untuk kelas kopi Arabika dengan sistem pengolahan full wash. Aries Sontani bertarung dengan 570 peserta dari seluruh Indonesia, yang diselenggarakan oleh AEKI (asosiasi eksportir dan industri kopi Indonesia) yang bekerja sama dengan pusat penelitian kopi dan kakao Indonesia (Puslitkoka) Jember dan AICE.

Aries menjelaskan, dalam kontes kopi itu, selain membawa merk D’Arffi Coffee, dia juga membawa bendera BUMDes Desa Barusari Kecamatan Pasirwangi dan juga Gapoktan kopi andalan Pasirwangi. Karena kopi yang dikonteskan itu merupkan biji kopi dari Desa Barusari, Kecamatan Pasirwangi yang berada di bawah BUMDes Jaya Bersama milik Desa Barusari yang selama ini berhasil dibina oleh Aries Sontani.

Untuk tahapan proses kontes sendiri sebetulnya memakan waktu yang cukup lama, memakan waktu kurang lebih satu bulan. Dan Aries sendiri cukup kelabakan waktu itu karena dengan kendala teknis, kopi yang dikirimkan mendadak dan belum begitu maksimal dipersiapkan. Namun demikian, Aries tetap berhasil menyabet juara 2 mengharumkan Kabupaten Garut.

“Prosesnya itu ada tahapan seleksi, kurang lebih waktunya satu bulan dari pertama kopi dari peserta tersebut dikirim ke tempat seleksi di puslitkoka Jember, Jawa Timur. Setelah itu satu bulan kemudian baru diumumkan tim seleksi puslitkoka, itu finalisnya ada 15 peserta yang masuk (hasil seleksi),” ujar Aries.

Aries pun bersyukur sekali ketika diumumkan masuk 15 finalis dari 570 peserta yang diseleksi. Hingga kemudian diumumkan sebagai juara 2 dengan nilai 89,52. Beda tipis dengan juara satu dari kopi Toraja Utara yang meraih nilai 89,89. Sementara juara 3 dari Aceh Tengah meraih nilai 89,36.

“Alhamdulillah tanpa diduga tanpa disangka saya sebagai owner gapoktan kopi andalan Pasirwangi yang brand-nya D’Arffi Coffee, mendapatkan satu kebahagiaan yang tidak disangka masuk nominasi juara kedua. Waktu pengumuman pun disaksikan oleh pak Kades Barusari beserta rengrengan dan pak Camat Pasirwangi yang juga hadir,” kata Aries.

Aries menjelaskan, kopi yang dikonteskan sendiri merupakan bentuk green bean mentah yang dikirimkan ke puslitkoka. Kemudian puslitkoka yang melakukan proses roasting karena mereka memiliki level tersendiri dalam roasting. Sementara juri pun didatangkan dari berbagai negara untuk melakukan seleksi.

Tentunya raihan juara ini menambah deretan prestasi yang selama ini juga pernah Aries raih di beberapa kontes kopi. Sebelumnya Aries juga pernah meraih juara 3 tingkat nasional dalam kontes kopi specialty Indonesia tahun 2017. Kemudian di tahun 2018 Aries mendapat juara 4 di kontes kopi specialty Indonesia.

“Untuk tahun 2018 saya tidak dapat nominasi karena kemarin ada unsur kena diskuaifikasi. Sampel yang diseleksi dengan akurasi bahan baku yang ada tidak sesuai. Itu memang kelalaian saya lah. Padahal informasinya kalau tidak didiskualifikasi ada selentingan saya dapat juara satu, tapi diturunkan juara 4,” katanya.

“Tapi ada obatnya, tahun 2018 saya juga dapat nominasi saat apresiasi AEKI membawa misi dibawa ke kancah internasional. Alhamdulillah dapat nominasi bronze (perunggu). itulah obatnya, alhamdulillah di Perancis dapat lebih tinggi lagi,” katanya.

Kemudian Aries juga pernah meraih juara 2 di tahun 2018 untuk kontes kopi yang diselenggarakan Perhutani Jabar. Waktu itu Aries mewakili Perhutani Garut. “Berarti tahun 2018 itu saya dapat penghargaan dua kali,” imbuhnya.

Sementara itu Kepala Desa Barusari, Kecamatan Pasirwangi, Usep Sirojudin, mengaku sangat bangga atas prestasi Aries Sontani meraih juara 2. Dia pun mengaku merinding ketika menyaksikan langsung ketika diumumkan di gedung Sabilulungan. Betapa tidak, karena Aries Sontani membawa biji kopi dari Desa Barusari yang selama ini memang dibina oleh Aries melalui BUMDes.

“Termasuk kebanggaan saya karena di dalamnya punya lembaga BUMDes. Saya ingin memajukan BUMDes Barusari, saya sangat bangga,” kata Usep.

Maka dari itu menurut Usep,Pemerintah Kabupaten Garut ataupun Provinsi mustinya mensuport pelaku usaha seperti Aries ini yang berjuang membesarkan dunia perkopian. Karena Aries berhasil mengharumkan nama Kabupaten Garut.

“Saya dan lembaga desa bersama pak Camat berangkat ke gedung sabilulungan itu, alhamdulillah pak Camat juga memberikan suport yang sepenuhnya,” kata Usep.

Selain itu, menurut Usep, keberhasilan budidaya kopi di Desa Barusari ini juga tak terlepas dari jasa Dani Hamdan mitra program Community development Star Energy Geothermal Darajat, yang selama ini banyak mensuport baik dari sisi permodalan, hingga pelatihan kepada BUMDes.

Dani Hamdan menjelaskan, pihaknya dalam hal ini mewakili program yang didukung star Energy Geothermal Darajat. Salah satunya mengembangkan komoditi kopi.”Dalam hal ini kami bekerja di ring satu star energy di Desa Barusari,” ujarnya.

“Untuk Barusari ini memang kita jadikan percontohan untuk membangun sistem pengolahan kopi yang terintegrasi. Karena ketika kita survey ke lapangan, memang desa ini (awalnya)tidak memiliki kontrol terhadap kopinya sendiri. Jadi kopinya kemana mana berceceran. sehingga ketika kita datang ke desa berapa produksi kopi di sini? tidak ada yang tahu. Karena itu tadi diproduksi di Desa Barusari tapi kopinya tidak tahu kemana,” jelasnya.

“Akhirnya dengan D’Arffi dengan pak Aries dengan BUMDes dengan LMDH kita kumpul dengan Perhutani, bagaimana cara memecahkan ini. Alhamdulillah desa dan bumdesnya juga menyambut positif kemudian dari D’Arffi juga siap menjadi sentral untuk tata niaganya, akhirnya kita punya satu kata kunci, namanya ini harus satu pintu. Supaya sebesar mungkin manfaatnya dirasakan oleh masyarakat Barusari,” katanya.

Sementara Ketua BUMDes Jaya Bersama, Desa Barusari, H Aceng Hasan (45) mengatakan, selama ini penyertaan modal desa untuk BUMDes sebesar Rp21 juta dan sekarang dengan usaha kopi berkembang menjadi Rp200 juta.

“Penyertaan modal full ke kopi. Sebelumnya kita pembibitan kentang.Alhamdulillah berkat dukungan pak Lurah, pendampingan pak Dani dan pak Aries, alhamdulillah BUMDes ada kemajuan. Kita mau jadikan contoh bagi desa yang lain,” katanya.

Usaha kopi ini baru dilaksanakan dalam satu musim panen. Itupun dilakukan di akhir musim panen. Tapi serapan kopi menurutnya sudah cukup lumayan yaitu mencapai kurang lebih 20 ton.

BUMDes juga berhasil menciptakan lapangan kerja dari masyarakat setempat untuk tenaga pengolahan kopi. Dan diperkirakan pada musim panen selanjutnya akan lebih besar lagi serapan produksi kopi maupun tenaga kerja. “Diperkirakan sehari bisa lebih dari 5 ton nanti di musim panen selanjutnya,” katanya. (fer/adv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here