Aktivitas Komunitas Yahudi di Indonesia yang Masih Sembunyi-sembunyi

124
Foto: Neha Bankahaaretz

RadarPriangan.com, JAKARTA–Media terkemuka Israel, Haaretz menurunkan artikel tentang komunitas Yahudi di Indonesia. Hingga saat ini, penganut Yudaisme di Indonesia masih harus sembunyi-sembunyi.

Ada kelompok kecil Yahudi di Indonesia yang bertemu secara diam-diam sebulan sekali untuk berdoa di Hari Sabat. Memang, Yudaisme hingga saat ini bukanlah satu dari enam agama yang diakui di Indonesia.

Biasanya, penganut Yudaisme mengaku sebagai pemeluk Kristen ataupun agama lainnya yang diakui di Indonesia dalam kartu identitas mereka. Hingga saat ini pemerintah Indonesia secara resmi hanya mengakui Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu.

Walakin, hal itu tak menghalangi para penganut Yahudi di Indonesia beribadah sesuai iman mereka. Ada lokasi di pinggiran Jakarta tempat mereka bertemu dan beribadah pada Hari Sabat.

“Kami seharusnya melakukan ini setiap pekan selama Sabat, tetapi di Jakarta kami melakukan ini sebulan sekali karena sulit mengatur untuk bertemu,” ujar Rabi Benjamin Meijer Verbrugge.

Pria 49 tahun itu tinggal di Lampung. Setiap sebulan sekali dia ke Jakarta untuk memimpin doa bagi komunitas Yahudi.

Rabi Benjamin menjelaskan, komunitas Yahudi di Indonesia tersebar di enam wilayah di antaranya Jawa Barat, Bandung, Medan, dan Papua. “Kami memiliki dua keluarga di Lampung dan 20 orang lainnya di Jakarta, juga Timor Leste,” katanya.

Dia memperkirakan ada 140 pemeluk Yahudi di Indonesia. Namun, karena sebagian besar komunitas itu terkonsentrasi di sekitar Jakarta, maka lebih mudah bagi mereka berkumpul di ibu kota.

Umat Yahudi di Indonesia terus menyembunyikan identitas keagamaan mereka. Hanya di ruang berdoa saja umat Yahudi di Indonesia menjumpai simbol-simbol agama mereka.

Adalah Rudi C (56) yang menyediakan tempat untuk sinagoge untuk peribadatan umat Yahudi di Jakarta. Warga Uyghur yang sebelumnya penganut Nasrani itu pindah menjadi Yahudi dan menawarkan tempat untuk berdoa dan melakukan kongregasi.

“Kami mendapatkan kayu untuk pemisah ini buatan Indonesia, tetapi pengrajin setempat tidak memahami bahwa ini sesungguhnya adalah Magen David (Bintang Daud). Ini tampak seperti bintang biasa bagi mereka, jadi bukan masalah,” ujar Rudi.

Dia mengubah apartemennya yang luas untuk sinagoge. Ada menorah buatan pengrajin lokal dalam ukuran cukup besar di ruangan itu.

Ruangan itu juga memiliki sebuah tabut yang disucikan lengkap dengan parochet biru dari Israel. Tabut itu dibuat di Jawa.

Kitab Taurat yang ada di dalam ruang doa itu didatangkan dari sebuah sinagoge di Pennsylvania, Amerika Serikat. Namun, aslinya dari Israel.

Meski demikian, ruangan itu bukanlah satu-satunya sinagoge di Indonesia. Pada 2003, sinagoge bernama Shaar Hashamayim dibangun di Tondano, Sulawesi Utara.

Komunitas itu memiliki 20 orang anggota. Namun, mereka menolak diwawancarai seiring meningkatnya suhu politik akibat Pemilu 2019 pekan lalu.

Setiap konflik Israel – Palestina menghangat, komunitas Yahudi di Indonesia langsung ketar-ketir bakal terkena imbasnya. Sebagai contoh pada 2009 ada sebuah sinagoge di Surabaya yang ditutup setelah konflik di Gaza.

Rudi dan keluarganya pun tak mau terang-terangan memperlihatkan identitas mereka sebagai penganut Yudaisme. “Saya tak membiarkan anak laki-laki saya mengenakan kipah di luar dan dia mengaku kepada teman-teman di sekolahnya bahwa dia Nasrani,” ujar Riya, istri Rudi.

Riya sebelumnya bukanlah penganut Yudaisme. Dia memeluk Yahudi mengikuti suaminya pada 2012.

Riya pun mewanti-wanti agar lokasi sinagoge tempatnya berdoa tidak dipublikasikan. Dia khawatir sinagoge itu akan dihancurkan.

Setelah doa Hari Sabat selesai, Rudi kembali merapikan partisi kayu berlogo Bintang Daud. Dengan demikian sinagoge itu tak terlihat menyolok.

“Iman Yahudi kami bukan untuk konsumsi publik. Ini bukan karena kami takut, tetapi harus sangat berhati-hati karena tiga dari setiap sepuluh laki-laki muslim di Indonesia teradikalisasi,” kata Rabi Benjamin.

Kini, umat Yahudi di Indonesia sangat mengharapkan pengakuan dari pemerintah dan masyarakat tanpa harus menghadapi persekusi karena minoritas. “Jika eksistensi komunitas Yahudi ini diketahui publik, kami yakin akan ada persekusi,” ujar Ferriy R (54) yang bekerja sebagai manajer gedung.

Dia menyadari keberadaan umat Yahudi di Indonesia cepat atau lambat akan diketahui secara luas. Namun, Ferriy dan umat Yahudi lainnya di Indonesia lebih mengkhawatirkan kelompok muslim radikal dan evangelis fundamentalis yang membuat kehidupan mereka lebih sulit.

“Mereka tidak siap menerima keberagaman. Indonesia memiliki aturan ini (keberagaman) soal agama, tetapi kenyataannya berbeda,” katanya.

Isu lainnya adalah pernikahan antar-pemeluk agama yang berbeda. Hingga saat ini perkawinan antara muslim dan pemeluk Yahudi bukanlah hal lazim di Indonesia.

Sebagai contoh, ayah Rabi Benjamin adalah seorang muslim yang jatuh cinta kepada perempuan Belanda penganut Yahudi. Namun, itu jauh sebelum 1990-an atau saat di Indonesia sebuah perkawinan bisa melalui catatan sipil tanpa sertifika pernikahan.

Orang tua Rabi Benjamin pun tidak menikah di masjid ataupun sinagoge. “Mereka pergi ke kantor catatan sipil. Pada 1990-an pemerintah mulai mensyaratkan sertifikat pernikahan ketika orang-orang ingin menikah,” tuturnya. (jpnn)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here