Adzan Berkumandang di Seluruh Negeri, 2 Menit Heningkan Cipta untuk Korban Tragedi Penembakan

188
JAGA TOLERANSI: Hari solidaritas nasional di Selandia Baru, Jumat (22/3), sepekan usai tragedi penembakan brutal di 2 masjid sebelum salat Jumat. (FIN)

RADARPRIANGAN.COM – Kemarin (23/3), tepat tujuh hari pascaaksi penembakan brutal yang terjadi di dua masjid Christchurch, Selandia Baru. Pemerintah setempat menggelar upacara peringatan di Hagley Park. Saat itu suara adzan ikut dikumandangkan.

Masih teringat Jumat (16/3) pekan lalu, Brenton Tarrant membabi buta menembaki jamaah Masjid Al-Noor jelang salat Jumat. Dia menyusuri loraong masjid sampai ruang salat sambil terus memberondongkan peluru. Seketika, jamaah saat itu langsung semburat.

Rentetan tembakan dari moncong senjata Tarrant menewaskan 41 orang. Termasuk satu warga negara Indonesia Lilik Abdul Hamid. Lilik sudah 16 tahun tinggal di Christchurch. Pria asal Medan itu bekerja sebagai teknisi pesawat Air New Zealand.

Di Masjid Lindwood, tiga orang pelaku teror lainnya melakukan aksi serupa. Aksi mereka menewaskan delapan orang di tempat. Dua WNI menjadi korban selamat meski mengalami luka tembak. Yakni, Zulfirman Syah dan anaknya, Omar Rois.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern bersama sejumlah menteri lainnya turut hadir dalam acara peringatan tersebut. Tidak ketinggalan, para Duta Besar (Dubes) negara Islam. Termasuk Dubes Indonesia untuk Selandia Baru Tantowi Yahya.

Para petinggi negara tersebut larut dalam suasana berkabung bersama ratusan warga Christchurch yang memadati taman kota itu. Mengheningkan cipta berlangsung pukul 1.32 waktu setempat selama dua menit. Suara adzan kemudian dikumandangkan. “Disiarkan langsung oleh TVNZ dan Radio New Zealand ke seluruh pelosok negeri,” ucap Tantowi dalam siaran resmi yang diterima.

Pria kelahiran Indralaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan itu terharu. Menyaksikan dukungan warga Selandia Baru terhadap umat Islam yang sedang berduka. “Mereka datang dengan cinta dan doa. Untuk menghargai umat muslim, perempuan asli Selandia Baru yang datang mengenakan penutup kepala dan hijab,” terang Dubes 58 tahun itu.

Pada peringatan tersebut warga pria Selandia Baru dengan spontan menampilkan tarian haka. Sebuah tarian seruan perang dari Suku Maori, Selandia Baru. Gerombolan pria itu berkumpul dengan mata melotot. Lalu, menyanyikan nada-nada garang dengan memukul-mukul dada mereka.

Kemudian, mereka menghentak-hentakan kaki berirama. Sambil menjulurkan lidah yang disertai teriakan. Melalui tarian itu mereka meluapkan emosi memerangi aksi terorisme yang mengganggu perdamaian di negaranya.

Mereka ingin menunjukkan solidaritas, cinta, dan kasih sayang. Haka digunakan untuk mengangkat semangat keluarga korban yang sedang berduka. “Iya kami tidak takut melawan teroris,” tegas Koordinator Fungsi Penerangan Sosial, Budaya, dan Pendidikan KBRI Wellington Adek Triana Yudhaswari.

Acara memorial tersebut sekaligus mengakhiri masa berkabung di Selandia Baru. Khususnya, Kota Christchurch. “Kita harus move on. Tidak boleh larut dalam suasana sedih yang berkepanjangan,” ucap Adek.

Hingga kemarin, situasi di Christchurch sudah kembali normal. Sekolah dan fasilitas publik sudah digunakan seperti biasa. Penjagaan ketat oleh aparat kepolisian setempat di masjid-masjid Christchurch tidak lagi dilakukan. (rls/ful/fin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here