Ada Pemain Meninggal, Turnamen Sepakbola di Karpaw tanpa Rekomendasi PSSI

212
ilustrasi: istimewa

RadarPriangan.com, GARUT – Sebuah turnamen sepak bola yang digelar di Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut menyebabkan salah seorang pemainnya meninggal dunia. Askab PSSI Kabupaten Garut sendiri memastikan bahwa kompetisi tersebut ilegal karena dilangsungkan tanpa ada rekomendasi dari pihaknya.

Meninggalnya salah seorang pemain tersebut terjadi pada Sabtu (20/7) di Lapangan Bola Kecamatan Karangpawitan. Yang menjadi korban diketahui bernama Enden, 38, warga Desa Situsaeur, Kecamatan Karangpawitan.

Salah seorang warga yang menyaksikan pertandingan tersebut, M Surya, 32, menyebut bahwa Enden sempat tidak sadarkan diri di lapangan. “Saat main tiba-tiba jatuh begitu saja di salah satu sudut lapangan. Saat jatuh, posisi kepala juga terlihat berbenturan langsung dengan tanah yang keras karena kering,” ujarnya, Minggu (21/7).

Surya menyebut bahwa saat terjatuh, korban sempat mendapatkan pertolongan pertama dari para pemain dan penonton sebelum kemudian dilarikan ke RSUD dr Slamet Garut. Namun dari informasi yang diterimanya, Enden meninggal dunia sebelum sampai di RSUD dr Slamet menggunakan kesehatan milik desa.

“Pak Enden sudah dimakamkan sekarang di pemakaman umum Kampung Situsaeur setelah sempat disalatkan di masjid. Tadi banyak juga yang antar, termasuk unsur Muspika Karangpawitan,” katanya.

Sementara itu Ketua Askab PSSI Kabupaten Garut, Amirudin Latif menyebut bahwa turnamen yang digelar di Kecamatan Karangpawitan dan menelan korban ilegal. Ia pun mengaku sangat meyangkan jatuhnya korban dalam pertandingan sepakbola yang seharusnya menjadi hiburan bagi masyarakat banyak.

Amir menyebut bahwa sebelum digelar, pihaknya sempat ditemui oleh penyelenggara. Dalam pertemuan tersebut ia mengaku sempat memaparkan hal-hal yang seharusnya dilakukan sebelum menggelar turnamen.

“Wasit-wasit dari kita juga sudah siap memimpin pertandingan. Namun begitu penyelenggara ini mengetahui apa saja yang harus dilakukan, mereka ini tidak pernah berkomunikasi lagi. Dan tiba-tiba saja tahu kemarin ada yang meningga. Jadi saya pastikan itu kompetisi ilegal,” kata Amir, Minggu (21/7).

Amir menjelaskan bahwa dalam kompetisi sepakbola, seharusnya terdapat unsur-unsur yang harus ada, seperti kesehatan hingga perangkat pertandingan. Dengan hadirnya hal tersebut, menurutnya kejadian meninggalnya pemain di lapangan bola tidak terjadi.

“Kalau dibenturkan dengan takdir ya selesai. Namun tentu kita juga ada aturan dan pelaksana harus bisa meminimalisasi hal-hal seperti itu. Nanti mungkin kita akan melakukan pendalaman kenapa hal tersebut bisa terjadi. Bisa saja kan tim kesehatan yang seadanya, atau mungkin juga yang lainnya. Ini harus menjadi pengingat bagi yang akan melakukan kegiatan serupa kedepan. Jangan asal digelar saja,” katanya. (igo)

RadarPriangan.com, GARUT – Sebuah kompetisi sepak bola yang digelar di Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut menyebabkan salah seorang pemainnya meninggal dunia.

Askab PSSI Kabupaten Garut sendiri memastikan bahwa kompetisi tersebut ilegal karena dilangsungkan tanpa ada rekomendasi dari pihaknya.

Meninggalnya salah seorang pemain tersebut terjadi pada Sabtu (20/7) di Lapangan Bola Kecamatan Karangpawitan. Yang menjadi korban diketahui bernama Enden, 38, warga Desa Situsaeur, Kecamatan Karangpawitan.

Salah seorang warga yang menyaksikan pertandingan tersebut, M Surya, 32, menyebut bahwa Enden sempat tidak sadarkan diri di lapangan. “Saat main tiba-tiba jatuh begitu saja di salah satu sudut lapangan. Saat jatuh, posisi kepala juga terlihat berbenturan langsung dengan tanah yang keras karena kering,” ujarnya, Minggu (21/7).

Surya menyebut bahwa saat terjatuh, korban sempat mendapatkan pertolongan pertama dari para pemain dan penonton sebelum kemudian dilarikan ke RSUD dr Slamet Garut. Namun dari informasi yang diterimanya, Enden meninggal dunia sebelum sampai di RSUD dr Slamet menggunakan kesehatan milik desa.

“Pak Enden sudah dimakamkan sekarang di pemakaman umum Kampung Situsaeur setelah sempat disalatkan di masjid. Tadi banyak juga yang antar, termasuk unsur Muspika Karangpawitan,” katanya.

Sementara itu Ketua Askab PSSI Kabupaten Garut, Amirudin Latif menyebut bahwa kompetisi yang digelar di Kecamatan Karangpawitan dan menelan korban ilegal. Ia pun mengaku sangat meyangkan jatuhnya korban dalam pertandingan sepakbola yang seharusnya menjadi hiburan bagi masyarakat banyak.

Amir menyebut bahwa sebelum digelar, pihaknya sempat ditemui oleh penyelenggara. Dalam pertemuan tersebut ia mengaku sempat memaparkan hal-hal yang seharusnya dilakukan sebelum menggelar kompetisi.

“Wasit-wasit dari kita juga sudah siap memimpin pertandingan. Namun begitu penyelenggara ini mengetahui apa saja yang harus dilakukan, mereka ini tidak pernah berkomunikasi lagi. Dan tiba-tiba saja tahu kemarin ada yang meningga. Jadi saya pastikan itu kompetisi ilegal,” kata Amir, Minggu (21/7).

Amir menjelaskan bahwa dalam kompetisi sepakbola, seharusnya terdapat unsur-unsur yang harus ada, seperti kesehatan hingga perangkat pertandingan. Dengan hadirnya hal tersebut, menurutnya kejadian meninggalnya pemain di lapangan bola tidak terjadi.

“Kalau dibenturkan dengan takdir ya selesai. Namun tentu kita juga ada aturan dan pelaksana harus bisa meminimalisasi hal-hal seperti itu. Nanti mungkin kita akan melakukan pendalaman kenapa hal tersebut bisa terjadi. Bisa saja kan tim kesehatan yang seadanya, atau mungkin juga yang lainnya. Ini harus menjadi pengingat bagi yang akan melakukan kegiatan serupa kedepan. Jangan asal digelar saja,” katanya. (igo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here