90 Meninggal, 374 Sakit saat Jalankan Tugas Pemilu

241
PAHLAWAN DEMOKRASI: Seorang petugas Polisi dirawat oleh petugas medis di ambulans akibat kelelahan menjaga tempat PPK di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (18/4). (FEDRIK TARIGANJA/JAWA POS)

Di Jabar Tercatat 30 Orang Petugas KPPS Meninggal

RadarPriangan.com, JAKARTA – Berdasarkan data terakhir yang dirilis oleh Komisi Pemilihan Umum Pusat (KPU) hingga Senin sore (22/4) sudah ada 90 petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal dunia dan 374 orang sakit dalam tugas Pemilu 2019.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengatakan, pihaknya akan bertemu Kementerian Keuangan untuk membahas anggaran santunan bagi para petugas yang mengalami musibah itu.

”Kami besok rencanakan akan lakukan pertemuan dengan Kementerian Keuangan. Besok rencananya sekjen yang akan bertemu para pejabat Kementerian Keuangan,” kata Arief kepada wartawan dalam jumpa pers di Kantor KPU, Jakarta, Senin (22/4).

Dia mengusulkan, untuk besaran santunan terhadap petugas yang meninggal dunia sebesar Rp 36 juta. Sedangkan, petugas yang luka-luka yang menyebabkan kecacatan sebesar 30 juta. Dan untuk yang luka-luka mendapat Rp 16 juta.

Arie mengaku, selama ini untuk anggaran santunan bagi petugas KPPS tidak me­miliki pos anggaran. Namun, usulan ini harus bisa diwu­judkan oleh Kemenkeu.

Sebelumnya, Mendagri Tja­hjo Kumolo juga memastikan Pemerintah akan mencairkan dana untuk santunan para petugas KPPS yang meninggal dunia. Namun, dia belum bisa memastikan besarannya sebab masih menunggu data dari KPU dan Bawaslu.

”Kami menunggu usulan dari Bawaslu dan KPU. Saya yakin Pemerintah akan mem­beri penghargaan, tetapi ka­lau soal anggaran nanti biar dari Bawaslu fix-nya, berapa untuk yang sakit, berapa yang meninggal termasuk KPPS, dan anggota Polri,” kata Tja­hjo lewat keterangan tertulis.

Sementara itu, di KPU Jawa Barat mencatat sampai saat ini 30 petugas Kelompok Penyelengara Pemungutan Suara (KPPS) meninggal du­nia seusai menjalankan tugas mengitung dan merekap suara Pemilu 2019. Selain itu, ada 14 orang petugas lainnya dilaporkan sakit.

Berdasarkan laporan yang diterima KPU, puluhan petu­gas yang meninggal dan sakit itu tersebar di 16 kabupaten/kota. Di antaranya di Kota Bandung, Kota Cimahi, Ka­bupaten Cianjur, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cire­bon, Kabupaten Sukabumi, Kota Sukabumi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Tasik­malaya dan beberapa daerah lainnya.

”Jumlah bertambah, ini re­kor petugas meninggal dan sakit di Jabar ada 44 orang,” kata Ketua KPU Jabar Rifqi Ali Mubarok, kepada wartawan saat ditemui di Kantor KPU Jabar, Kota Bandung.

Dari laporan yang diterima, sebagian besar petugas KPPS yang meninggal itu karena faktor kelelahan. Pihaknya juga sampai saat ini masih menginventarisir laporan dari KPU kabupaten/kota.

”Semuanya (diduga) karena faktor kelelahan. Dari sisi usia juga rata-rata memang sudah berumur,” ucapnya.

Dia juga mengaku, tengah memikirkan uang santunan kepada keluarga yang diting­galkan. Pihaknya juga sudah melaporkan hal kepada KPU RI termasuk Pemprov Jabar agar bisa sama-sama mem­berikan santunan.

”Kita lakukan pendataan kemudian dilaporkan ke KPU RI sedang dibicarakan pem­berian santunan. Kemudian lapor juga ke Provinsi mudah-mudahan bisa beri santunan juga,” ucapnya.

Rifqi menambahkan, ba­nyaknya petugas yang mening­gal karena proses pemungu­tan dan pengitungan di Pe­milu kali ini memang cukup melelahkan. Para petugas harus bekerja ekstra untuk mengitung lima surat suara.

’’ Di Jabar ini cukup banyak, karena jumlah TPS dan pe­tugasnya juga sangat banyak. Di Jabar ada sekitar 33,2 juta pemilih paling banyak di In­donesia. Kedua TPS banyak ada 138 ribu TPS, dengan kurang lebih 950 ribu petugas KPPS,” ucapnya.

Sementara itu di pihak ke­polisian yang melakukan tugas pengamanan pemilu sedikitnya 15 personel kepo­lisian gugur. 15 polisi yang meninggal tersebut tersebar di berbagai daerah, khususnya wilayah yang sulit dijangkau.

Karopenmas Polri, Brigjen Pol Dedi Prasetyo mengatakan, gugurnya 15 anggota kepoli­sian terjadi saat, sebelum dan sesudah pencoblosan. Mulai dari distribusi logistik, peng­amanan pemilu, penghitung­an suara dan pengawalan surat suara.

Menurutnya, anggota yang gugur itu mayoritas berasal dari luar pulau Jawa yang di­kenal rawan. Dedi mencon­tohkan daerah rawan seper­ti Kalimantan Timur, NTB, NTT, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Dedi menyebut, di daerah tersebut kondisi geografis tiap tempat Pemungutan Suara (TPS) beragam. Ada yang lokasinya sangat jauh, sulit dijangkau dan bahkan ada yang gugur dalam kecelakaan lalu lintas.

“Ya memang kondisi tiap orang berbeda. Kemudian kondisi masalah geografis TPS tersebut berbeda-beda,” kata Dedi.

Dedi mengaku, pihak Polri sangat berduka atas gugurnya 15 anggota tersebut. Ia me­negaskan, para personel yang gugur nantinya mendapat kenaikan pangkat, perpan­jangan gaji, santunan, dan hak lainnya.

“Seluruh anggota yang gugur mendapat penghargaan ber­upa kenaikan pangkat seting­kat lebih tinggi dari pangkat semula dan tentu hak-haknya juga,” pungkas Dedi. (fin/yan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here