150 Orang Ikut PKT di Sindangsari

81

Normalisasi Irigasi Baranangsiang

GARUT – Sebanyak 150 orang warga Desa Sindangsari, Kecamatan Cigedug, Kabupaten Garut turun ke irigasi Baranangsiang, Senin (25/11) bersama Kades Sindangsari, H Ayo Sutisna. Ratusan warga tersebut tampak sibuk melakukan normalisasi irigasi akibat tingginya sedimentasi (pengendapan) tanah.

H Ayo Sutisna menjelaskan, kegiatan warga ini merupakan bagian dari program padat karya tunai (PKT) yang diamanahkan Pemerintah dari Dana Desa (DD). Dari nilai 30 persen dari dana desa yang harus dikucurkan untuk upah tenaga kerja itu, dibagi dalam beberapa program PKT, salah satunya untuk normalisasi irigasi Baranangsiang.

Ketika ditemui di lokasi kemarin, H Ayo merasa prihatin dengan irigasi Baranangsiang. Kondisinya tampak tidak terawat. Sedimentasi lumpur cukup tebal sehingga menghambat aliran air.

Menurut H Ayo, irigasi Baranangsiang, sebetulnya bagian dari pemeliharaan Dinas PUPR. Namun pihaknya merasa sangat prihatin karena melihat kondisinya yang tidak terawat. Padahal irigasi Baranangsiang, selama ini digunakan oleh banyak desa bahkan lintas Kecamatan hingga Kecamatan Bayongbong.

“Kenapa kami ikut andil dari tahun 2017 normalisasi mungkin sekitar 4 kilometer, sekarang 1500 meter kami sangat memperhatikan saluran ini karena tidak ada lagi yang memperhatikan. Dari PUPR sendiri (kurang memperhatikan). Sehingga terlantar dangkal bahkan musim kemarau air gak sampai,” katanya saat ditemui di lokasi kemarin.

“Makanya kami dari hasil musyawarah tingkat dusun kemudian musdes (musyawarah desa) , alhamdulillah kami bisa menyisihkan anggaran dana desa untuk padat karya tunai. Di sisi lain untuk kelancaran masalah air juga mungkin bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan air warga Sindangsari. Bahkan manfaatnya sampai desa di Kecamatan Bayongbong,” tambahnya.

Bisa dikatakan, irigasi Baranangsiang merupakan jantung dari ekonomi warga. Jika dibiarkan terbengkalai, mau kemana lagi masyarakat mengairi kebutuhan pertanian maupun sehari-hari.”Kami termasuk keluarga masyarakat, tokoh, sangat peduli karena seandainya ini saluran terputus mau kemana warga masyarakat mencari air,” tegasnya.

Lebih jauh H Ayo juga menjelaskan, seluruh warga yang bekerja ini diupah dari dana desa. Adapun besaran upah jika kerja sampai setengah hari nominalnya Rp35ribu dan jika satu hari hingga sore besaran upah sebesar Rp 70 ribu. (fer)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here